Header Dompet Dhuafa Jatim
RUMAH SINGGAH DOMPET DHUAFA JATIM JADI PENOPANG HARAPAN KAYESA MELAWAN TUMOR OTAK

RUMAH SINGGAH DOMPET DHUAFA JATIM JADI PENOPANG HARAPAN KAYESA MELAWAN TUMOR OTAK

Surabaya, 23 September 2025 — Kayesa, balita berusia lima tahun, harus menghadapi ujian berat dalam hidupnya. Usai mengalami insiden jatuh pada April lalu, ia diduga menderita tumor otak dengan gejala menyerupai stroke dini. Kondisinya kian memburuk, hingga menyulitkannya berbicara, bergerak, bahkan membuat emosinya lebih sensitif. Di tengah perjuangan pengobatan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya, keluarga Kayesa mendapatkan bantuan dari Program Rumah Singgah Pasien Dompet Dhuafa Jawa Timur, yang memberikan fasilitas tempat tinggal, makanan, hingga transportasi secara gratis.

Kehadiran rumah singgah ini menjadi oase di tengah beban keluarga. “Rumah Singgah Dompet Dhuafa Jawa Timur ini benar-benar membantu kami. Setidaknya kami tidak lagi memikirkan biaya tempat tinggal dan transportasi,” tutur ibu Kayesa dengan mata berkaca-kaca. Meski masih harus menunggu hasil MRI dan kontrol lanjutan di Lamongan, ia bersyukur sudah ada perkembangan kecil setelah opname tujuh hari.

Di sela kesedihan, sang ibu tak lupa menyampaikan rasa terima kasih. “Saya berterima kasih sebesar-besarnya kepada para donatur Dompet Dhuafa Jawa Timur yang sudah membantu kami. Semoga Allah membalas semua kebaikan mereka dengan kesehatan, rezeki yang berkah, dan kebahagiaan di dunia dan akhirat,” ucapnya lirih.

Perjuangan Kayesa masih panjang, tetapi kehadiran Rumah Singgah Pasien Dompet Dhuafa Jawa Timur memberi harapan baru. Program ini bukan hanya sekadar menyediakan atap, tetapi juga menghadirkan kekuatan dan semangat untuk bertahan. Dukungan masyarakat dan kepedulian para donatur menjadi pelita yang menyinari langkah keluarga kecil ini dalam menghadapi cobaan berat.

Reporter: Rini Karistijani
Editor: Rini Karistijani
Fotografer: Rini Karistijani

Tata Bahasa diolah oleh AI

PAK JOKO, PENJUAL TEMPE DAN PENCARI ROMBENG YANG TAK PERNAH LELAH DEMI PENDIDIKAN ANAK

PAK JOKO, PENJUAL TEMPE DAN PENCARI ROMBENG YANG TAK PERNAH LELAH DEMI PENDIDIKAN ANAK

Surabaya, 23 September 2025 – Demi memastikan anak-anaknya tetap bisa mengenyam pendidikan, Pak Joko, seorang warga sederhana, setiap hari berjuang dengan menjalani dua pekerjaan sekaligus. Sejak pukul 05.00 WIB, ia berkeliling kampung dan pasar menjajakan tempe dengan gerobak sederhana. Dari hasil itu, ia mampu memperoleh sekitar Rp60.000 per hari. Siang harinya, saat sebagian orang beristirahat, ia beralih menjadi pemulung barang rombeng—mulai botol, kardus, hingga besi tua—yang menambah penghasilan sekitar Rp20.000. Semua jerih payah itu dilakukan di Surabaya, dengan satu tujuan: menyekolahkan anak-anaknya agar meraih masa depan yang lebih baik.

Perjuangan Pak Joko adalah cermin nyata betapa kuatnya kasih seorang ayah. Ia sadar tidak mampu meninggalkan warisan berupa harta melimpah. Namun keyakinannya bulat bahwa pendidikan adalah kunci pemutus rantai kesulitan. “Saya hanya ingin anak-anak saya sekolah setinggi-tingginya. Biar mereka tidak merasakan beratnya hidup seperti saya,” ujarnya penuh harap.

Di balik senyum lelahnya, tersimpan doa yang tak pernah putus. Setiap langkah dan rupiah yang ia hasilkan diniatkan sebagai jalan menuju kebahagiaan anak-anak di masa depan. Kisah ini mengingatkan kita bahwa pendidikan adalah hak semua anak, sekaligus menjadi alasan mengapa perjuangan sekecil apa pun layak dimuliakan.

Reporter: Miftahul Huda
Editor: Anugrah Arief Yahya Lubis
Fotografer: Miftahul Huda

Tata Bahasa diolah oleh AI

KETIKA HELAAN NAPAS MENJADI PERJUANGAN, SEMANGAT VINDY TAK PERNAH PADAM

KETIKA HELAAN NAPAS MENJADI PERJUANGAN, SEMANGAT VINDY TAK PERNAH PADAM

Surabaya, 10 September 2025 – Vindy (22), seorang pejuang skoliosis dari Tuban, menemukan asa baru di Rumah Singgah Pasien Dompet Dhuafa (DD) Jatim saat berjuang melawan penyakitnya di Surabaya. Sejak terdiagnosis pada tahun 2020, Vindy yang menderita sesak napas dan nyeri hebat membutuhkan pengobatan jangka panjang, di mana program kemanusiaan ini hadir menyediakan akomodasi dan dukungan penuh bagi pasien kurang mampu dari luar kota agar dapat fokus pada proses penyembuhan menjelang tindakan operasi.

Di usianya yang masih muda, Vindy harus memikul beban yang tak terlihat namun begitu berat. Skoliosis yang menggerogoti tulang punggungnya sejak lima tahun silam perlahan merenggut kebebasannya, memaksanya bertarung dengan setiap helaan napas yang menyakitkan. Namun, gadis tangguh ini menolak menyerah. Ditemani bibinya yang setia, ia menjejakkan kaki di Kota Pahlawan, membawa sebongkah harapan untuk pulih dan hidup normal kembali.

Perjuangannya terwujud dalam rutinitas bolak-balik ke rumah sakit; dua kali sepekan untuk kontrol umum dan sebulan sekali untuk pemeriksaan tulang. Di tengah ketidakpastian itu, Rumah Singgah DD Jatim menjadi dermaga amannya. “Program ini benar-benar menolong kami yang tidak mampu, sangat meringankan beban. Saya bersyukur sekali,” ungkap Vindy dengan tulus. Baginya, tempat ini bukan sekadar bangunan, melainkan rumah yang memompa semangat dan mempertemukannya dengan sesama pejuang kesehatan.

Kini, hitung mundur menuju hari operasi besar dalam tiga hingga empat bulan ke depan telah dimulai. Dukungan dari para donatur yang terwujud dalam program Rumah Singgah Pasien menjadi bahan bakar bagi perjuangan Vindy. Harapannya sederhana, yaitu kembali sehat dan bisa bernapas lega tanpa rasa sakit yang selama ini membelenggunya.

Reporter: Rini Karistijani
Editor: Rini Karistijani
Fotografer: Rini Karistijani

Tata Bahasa diolah oleh AI