Surabaya, 17 Juli 2026 – Dompet Dhuafa Jawa Timur mengangkat kisah perjuangan M. Badri dan istrinya, Naning, dua penerima manfaat yang bertahan di sebuah kamar kos sederhana. Dengan penghasilan Rp300.000 per bulan sebagai muazin, Badri terus mengumandangkan azan setiap hari, meski pendapatannya hanya cukup untuk membayar sewa kamar dan listrik sehingga kebutuhan pangan mereka kerap tidak terpenuhi.
Di balik suara azan yang menyeru warga menuju masjid, Badri menyimpan ikhtiar panjang untuk menjaga keluarganya tetap bertahan. Seusai menunaikan tugas, ia kembali ke kamar kecil yang menjadi tempat beristirahat, makan, berdoa, sekaligus menaruh harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Naning pun setia berjalan di samping suaminya. Dalam keterbatasan, keduanya belajar mencukupkan rezeki yang ada, menekan kebutuhan, dan saling menguatkan ketika harus memilih antara membeli makanan atau memenuhi keperluan mendesak lainnya.
Meski hidup serba terbatas, Badri tidak meninggalkan amanahnya. Setiap waktu salat tiba, langkahnya tetap menuju masjid. Ia terus memanggil orang lain dalam kebaikan, sementara dirinya berjuang memenuhi kebutuhan paling dasar.
Badri dan Naning tidak mendambakan kemewahan. Mereka hanya berharap dapat menikmati makanan yang layak, membayar tempat tinggal tanpa kecemasan, dan menjalani hari dengan lebih tenang. Kisah keduanya menjadi pengingat bahwa di balik suara azan yang menenteramkan, ada keluarga sederhana yang sedang menjaga iman dan harapan agar tidak padam.
Cerita dan dokumentasi yang ditampilkan telah memperoleh persetujuan dari penerima manfaat untuk digunakan sebagai bagian dari laporan pertanggungjawaban dan publikasi program pendayagunaan dana LAMUSTA.
Reporter: Miftahul Huda
Editor: Miftahul Huda
Fotografer: Miftahul Huda
