Header Dompet Dhuafa Jatim
Darling Bagikan Ratusan Peket Nasi di Pengungsian-pengungsian

Darling Bagikan Ratusan Peket Nasi di Pengungsian-pengungsian

CIANJUR, JAWA BARAT — Dapur Keliling (Darling) Dompet Dhuafa bergerak ke beberapa titik pengungsian guna memberikan layanan pos-pos hangat. Di hari ketiga kejadian gempa bumi Cianjur, pada Rabu (23/11/2022), tim Darling hadir di 2 (dua) titik pengungsian.

Posko pertama yang didatangi adalah Posko Pengungsian Taman Prawatasari, Jl. Surya Kencana No.1, Sawah Gede, Kec. Cianjur. Di posko ini, ada setidaknya 700 warga terdampak yang mengungsi di lokasi ini. Dengan begitu antusias, lebih dari 250 pengungsi ramai mendatangi mobil Darling untuk mendapatkan makanan dan minuman penghangat tubuh.

Tim Darling sedang menyiapkan makanan-makanan penghangat bagi para pengungsi
Suasana di dalam salah satu tenda pengungsian

Penanggung Jawab Darling, Asep mengatakan, di lokasi ini juga tim Dompet Dhuafa berencana akan mendirikan sebuah tenda untuk dipergunakan sebagai musala bagi para pengungsi. Musala lapangan ini bermanfaat juga bagi mereka yang membutuhkan penanganan medis.

“Kami terus berupaya menyediakan pemenuhan kebutuhan logistik berupa makanan siap saji kepada para pengungsi. Sejak datang ke sini, Darling telah banyak melayani ratusan pengungsi di beberapa titik pengungsian,” kata Asep.

Selanjutnya, posko pengungsian yang didatangi Darling berlokasi di Pesantren Al- Humaediyyah, Jl. Awi Larangan Kidul, RT 04 / 05, Desa Benjot, Kec Cugeunang. Di posko, tim Darling berhasil membagikan sebanyak 250 nasi kotak siap santap.

Salah satu pengungsi usai mengambil segelas teh hangat.
Salah satu pengungsi usai mengambil segelas teh hangat.

Siti Nur Yali, wanita asal Kampung Tapal Kuda Babakan, Desa Cijedil, Kecamatan Cugenang adalah satu warga terdampak yang mengungsi di pengungsian Taman Prawatasari. Bersama sang suami dan anak, ia kini hanya mengandalkan bantuan-bantuan yang ada di pengungsian. Hadirnya mobil Darling menjadi hal yang ia syukuri.

“Saya senang ada mobil dapur keliling di sini yang membagikan makanan-makanan dan minuman,” ucapnya.

Baca juga: https://dompetdhuafajatim.org/gempa-56-m-guncang-cianjur-dmc-bergerak-menuju-lokasi/

Guna kelancaran aksi penanganan dampak bencana ini, sahabat dapat membantu dengan berdonasi melalui tautan berikut:

https://kitabisa.com/campaign/kuatkanwargacianjurterdampakgempa

(Dompet Dhuafa Jatim / Markom / Aldhi)

Gempa Cianjur: Dompet Dhuafa Lakukan Evakuasi Hingga Bagikan Makanan Siap Saji

Gempa Cianjur: Dompet Dhuafa Lakukan Evakuasi Hingga Bagikan Makanan Siap Saji

CIANJUR, JAWA BARAT — Sesaat setelah gempa mengguncang bumi Cianjur, tim gabungan aksi respon cepat Dompet Dhuafa langsung bergerak menuju lokasi kejadian. Gabungan tim yang terdiri dari beberapa unit program Dompet Dhuafa ini berangsur tiba di titik-titik yang sudah dipetakan sejak Senin (21/11/2022) malam. Sebelum itu, para peserta Sekolah Dai Pemberdaya (Cordofa Dompet Dhuafa) yang sedang praktik lapangan di Cibeber, Cianjur sudah lebih dulu bergerak dan sampai di lokasi untuk membantu warga yang terdampak.

Sumber daya tim unit-unit Dompet Dhuafa yang tengah melakukan aksi respon sejak tadi malam di antaranya adalah Disaster Management Center (DMC)Respon Darurat Kesehatan (RDK)Badan Pemulasaraan Jenazah (Barzah), dan Dapur Keliling (Darling).

Pagi tadi, tim DMC mendirikan tenda pengungsian di Lapangan Buniaga, Kp. Buniaga RT/RW 01/06, Desa Ciherang, Kecamatan Pacet. Di samping itu, DMC juga ikut tim SAR Gabungan guna pencarian korban yang tertimbun di beberapa titik di Kampung Saleurih. Salah satu korban diketahui merupakan seorang ibu hamil.

Sebagai unit pusat komando respon, posko sementara DMC berpusat di Jl. Prof. Moch Yamin Cikidang, Desa Sayang, Kec. Cianjur, Kabupaten Cianjur.

Baca juga: https://dompetdhuafajatim.org/gempa-56-m-guncang-cianjur-dmc-bergerak-menuju-lokasi/

Tim RDK sedang melakukan pemeriksaan kesehatan bagi para pengungsi

Salah satu personil DMC Dompet Dhuafa, Ahmad Barqu Sudjai pada pukul 15:56 WIB melaporkan dari Kampung Rawa Cina, Desa Nagrak, Cianjur. “Saat ini tim DMC Dompet Dhuafa beserta tim SAR gabungan berhasil melakukan evakuasi di rumah salah satu warga yang tertimbun. Teridentifikasi bahwa korban meninggal tertimbun dan telah berhasil dievakuasi. Hari ini juga korban langsung dimakamkan di Kampung Rawa Cina,” ucapnya dalam video yang dilaporkan kepada Dompet Dhuafa.

Di titik lain, tim RDK telah melakukan aksi layanan kesehatan di titik pengungsian Desa Tegalega, Kec. Warung Kondang, Kab. Cianjur. Selain itu, tim RDK juga membagikan makanan siap saji dan makanan untuk anak-anak kepada 65 penerima manfaat di RT 01, dan 105 penerima manfaat di RT 02. Di lokasi ini, kurang lebih terdapat lebih dari 500 jiwa yang mengungsi.

Bersamaan dengan itu, RDK bersama Puskesmas Pacet akan mendirikan dapur umum di Kp. Buniaga Ciherang Pacet. Aksi ini akan mulai aktif pada Rabu (23/11/2022) dengan jumlah 96 balita yang akan didukung. Saat ini, Puskesmas Pacet sedang merawat 18 korban kebutuhan makanan siap saji.

Tim DMC sedang mendirikan tenda pengungsian.

“Tim RDK masih terus melakukan pendataan lokasi-lokasi pengungsian untuk menyediakan layanan kesehatan bagi para penyintas,” ucap dr. Zainab Aqila selaku tenaga kesehatan RDK dalam laporannya kepada Dompet Dhuafa pada siang tadi.

Selanjutnya di titik pengungsi Taman Prawatasari, Cianjur, sebanyak 5 (lima) personil Darling Lembaga Pelayan Masyarakat (LPM) melakukan aksi dengan menyiapkan pos hangat dan musala lapangan bagi para pengungsi. Ada setidaknya 700 pengungsi yang terdampak di lokasi ini.

Sedangkan tim Barzah hingga saat ini masih terus melakukan evakuasi korban runtuhan. Seorang ibu hamil yang meninggal dunia di Kp. Salaeurih, Desa Benjot, Kec. Cugenang, telah berhasil dievakuasi menggunakan mobil Barzah yang tersedia. Barzah juga telah mengevakuasi korban lainnya di Kp. Nagrog RW 01, Desa Gasol, Kec. Cugenang.

Darling LPM dipadati oleh para pengungsi.

Hingga berita ini diterbitkan, tim assessment tengah melakukan pengiriman 5 (lima) terpal serta turut membantu pendirian tenda darurat untuk pengungsi di Kampung Pemeungkep, RT/RW 03/03, Desa Cijedil, Kec. Cugenang. Di lokasi ini, setidaknya ada 300 warga yang terdampak.

Guna kelancaran aksi penanganan dampak bencana ini, sahabat dapat membantu dengan berdonasi melalui tautan berikut:

https://kitabisa.com/campaign/kuatkanwargacianjurterdampakgempa

(Dompet Dhuafa Jawa Timur/Markom/Aldhi)

Gempa 5,6 M Guncang Cianjur, DMC Bergerak menuju Lokasi

Gempa 5,6 M Guncang Cianjur, DMC Bergerak menuju Lokasi

TANGERANG SELATAN — Gempa berkekuatan 5,6 magnitudo baru saja mengguncang wilayah Cianjur, pada Senin (21/11/2022), pukul 13.21 WIB. Gempa dengan titik pusat berada pada tingkat kedalaman 10 kilometer barat daya Kabupaten Cianjur, Jawa Barat ini dirasakan hingga di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Warga di Cianjur merasakan guncangan ini cukup kuat selama 10 – 15 detik. Merespon kejadian ini, tim Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa yang bermarkas di Jl. Menjangan Raya, Ciputat Timur, Tangerang Selatan langsung bergegas menuju lokasi kejadian.

Hingga berita ini disiarkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur melaporkan sebanyak 17 orang meninggal dunia dan 19 orang warga alami luka-luka cukup berat. Sedangkan rumah rusak berat sebanyak 343 unit. Beberapa fasilitas lainnya yang rusak adalah pondok pesantren, RSUD Cianjur, 2 gedung pemerintah, 3 fasilitas pendidikan, 1 tempat ibadah, serta ada jalanan yang terputus.

Tim Dai Cordofa Dompet Dhuafa yang berada di sekitar lokasi langsung bergerak merespon gempa.

Untuk pergerakan awal tim DMC Dompet Dhuafa saat ini ada 5 tim: (1) tim alfa dengan armada hilux melalui rute jalur Jakarta-Jonggol-Cianjur berjumlah 4 personil; (2) tim Bravo dengan armada hilux bergerak dari kota Kukabumi-Cianjur berjumlah 3 personil; (4) tim Carli dengan personil dari tim DD Jabar melalui lintas Bandung-Cianjur; dan (5) tim Delta bergerak dari Jakarta-Cipanas (Cigenang) menggunakan kendaraan roda dua dengan 2 personil

Chief Executive DMC Dompet Dhuafa Haryo Mojopahit mengatakan, segenap keluarga besar Dompet Dhuafa turut berduka cita atas apa yang terjadi pada saudara-saudara yang berada di Cianjur. Saat tiba di lokasi, tim DMC langsung berkoordinasi dan melakukan evakuasi serta pelayanan kesehatan darurat.

Tim DMC yang akan berangkat melakukan pemetaan respon bencana gempa bumi Cianjur

“Setiba di lokasi, Dompet Dhuafa fokus pada evakuasi dan pelayanan kesehatan darurat. Dompet Dhuafa akan terus memberikan kabar terbaru kondisi terdampak gempa bumi di Cianjur. Mari panjatkan doa untuk keselamatan dan perlindungan dari Allah SWT bagi para penyintas terdampak gempa bumi. Serta berikan semangat bagi para pegiat kemanusiaan yang terjun membantu penanganan darurat gempa bumi,” ujar Haryo.

Berdasarkan kajian inaRISK, sebanyak 32 kecamatan di Kabupaten Cianjur memiliki potensi bahaya gempa bumi dengan kategori sedang hingga tinggi. BNPB maupun siapa saja tidak ada yang dapat memprediksi kapan terjadinya bencana. Maka yang terpenting adalah bagaimana upaya yang dilakukan baik oleh pemerintah maupun masyarakat saat bencana terjadi.

Setidaknnya ada 2 (dua) armada yang saat ini sedang bergerak ke lokasi bencana.

“Bencana adalah suatu misteri. Yang pasti, kita harus selalu siap di mana pun dan kapan pun saat terjadi bencana. Juga bagaimana upaya-upaya kita dengan kolaborasi dan solidaritas yang sungguh-sungguh agar penanganan bencana dapat dilakukan dengan sebaik-baiknya,” pungkas Haryo. (Dompet Dhuafa Jatim/Markom/Aldhi)

Klik link donasi : https://kitabisa.com/campaign/kuatkanwargacianjurterdampakgempa

Banjir Bandang Rendam Rumah Warga di Desa Kalibaru Wetan, Banyuwangi

Banjir Bandang Rendam Rumah Warga di Desa Kalibaru Wetan, Banyuwangi

BANYUWANGI, JAWA TIMUR — Intensitas hujan deras membuat Sungai Yas di Desa Kalibaru Wetan, Kecamatan Kalibaru, Kabupaten Banyuwangi, meluap pada Kamis (03/11/2022). Akibatnya, terjadi banjir bandang dan menerjang puluhan rumah warga di Desa Kalibaru Wetan.

Debit air setinggi dada orang dewasa itu juga menyebabkan puluhan rumah warga dilaporkan rusak berat dan hingga lenyap. Sementara itu, jembatan penghubung antar dusun juga ambruk tersapu banjir.

Dompet Dhuafa melalui Cabang Jawa Timur dan tim Disaster Management Center (DMC), mengerahkan 1 (satu) unit armada ambulans, mendirikan Pos Hangat, menyalurkan 50 paket sembako, mendistribusikan 250 bungkus makanan siap saji, hingga membantu penyintas membersihkan sisa puing rumah yang rusak akibat banjir bandang.

Dompet Dhuafa Jawa Timur ikut berduka atas musibah yang terjadi dan sudah mengerahkan tim untuk melakukan respon dan aksi bersih rumah serta fasilitas umum di lokasi terdampak,” jelas Kholid Abdillah selaku Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Timur, melalui pesan singkat.

Baca Juga:

DMC Dompet Dhuafa Respon Banjir Bandang di Kabupaten Malang

Berdasarkan data yang terhimpun di lapangan, tercatat Desa Kalibaru Wetan memiliki kerugian sebanyak 32 rumah rusak berat, 1 jembatan putus, 3 (tiga) unit mobil hanyut, 7 (tujuh) unit motor hanyut, dan terputusnya saluran air bersih. Kemudian ada 3 ekor sapi dan 14 ekor kambing turut serta terbawa arus.

Sedangkan di Desa Kajarharjo terdapat 2 (dua) jembatan putus yang juga memutuskan saluran air bersih. Kemudian di Desa Kalibaru Kulon terdapat 2 toko rusak berat, 1 rumah rusak berat, 1 pagar koramil rusak berat, dan 1 pagar Polsek rusak berat. Lalu banjir menggenangi jalan di Desa Kalibarumanis. Terakhir, di Desa Banyuanyar 1 pagar rusak dan merendam sebagian jalan.

Hingga Jum’at (04/11/2022), belum ada data korban jiwa. Namun, tim masih akan terus melakukan pendataan terbaru. Terhitung sekitar 30 orang mengungsi. Sebagian warga sudah mulai melakukan kegiatan bersih-bersih puing sisa rumah yang rusak akibat banjir bandang.

Saat ini, penyintas membutuhkan bantuan darurat berupa makanan siap saji, air bersih, dan hygiene kit. Dompet Dhuafa pun membuka pos di Desa Kalibaru Wetan. Masyarakat bisa turut serta dalam membantu penanganan bantuan bagi warga terdampak.

Baca Juga:

Kini Mbah Tugardi Tak Harus Berjalan Jauh Dapatkan Air

“Kami turut berduka cita atas apa yang menimpa warga. Kami akan terus dan memberikan berita terbaru perkembangan penanganan emergency response di sana. Semoga warga terdampak selalu berada dalam perlindungan Allah SWT dan berikan ketabahan sebesar-besarnya bagi warga penyintas maupun relawan yang bertugas. Mohon doa dan dukungannya selalu,” terang Haryo Mojopahit selaku Chief Executive DMC Dompet Dhuafa, melalui pesan singkat. (Dompet Dhuafa Jawa Timur / Markom / Aldhi)

Kini Mbah Tugardi Tak Harus Berjalan Jauh Dapatkan Air

Kini Mbah Tugardi Tak Harus Berjalan Jauh Dapatkan Air

PACITAN, JAWA TIMUR — “Ya beginilah kondisi dusun kami. Keberadaan sumur wakaf ini sangat membantu warga di sini. Terima kasih mas,” Ucap Tugardi, pria lanjut usia (lansia) berusia sekitar 70 tahun saat ditemui Dompet Dhuafa pada Selasa (25/10/2022).

Tugardi tinggal di Dusun Ngasem, Desa Gembong, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Kediaman Tugardi begitu jauh dari pusat kota, bahkan butuh waktu sekitar satu jam lebih untuk sampai ke sana. Jalan yang dilalui juga berbatu, menanjak, dan tak jarang berlumpur bila usai hujan turun. Perjalanan itu juga tidak bisa ditempuh dengan mobil yang biasa melintasi ibu kota. Melainkan dengan mobil model Jeep yang telah dimodifikasi menyesuaikan medan yang dilalui.

Pria lansia yang akrab disapa Mbah Tugardi itu berjalan menggunakan tongkat dari kayu saat menyambut kedatangan Dompet Dhuafa. Lalu dia duduk di selasar surau seraya meletakkan tongkatnya dengan tangan bergetar. Maklum, usianya tidak lagi muda. Surau itu terletak bersebelahan dengan penampungan sumur wakaf yang diinisiasi oleh Dompet Dhuafa.

Kini Mbah Tugardi Tak Harus Berjalan Jauh Dapatkan Air

Mbah Tugardi bercerita, dulu sebelum ada sumur wakaf tersebut, dia harus pergi ke sungai untuk mendapatkan air. Walau sudah berusia lanjut, tubuh Tugardi masih cukup tegap. Dengan tubuhnya itu dia menyusuri jalan menuju sungai untuk memperoleh air. Bagaimanapun juga air adalah kebutuhan dasar setiap makhluk hidup. “Mau tidak mau, saya harus ambil air ke sungai. Karena kita semua butuh itu”, ujar Tugardi sambil menatap lurus ke depan.

Dia mengatakan untuk memenuhi kebutuhan air dalam sehari, sedikitnya Tugardi harus bolak-balik 4 kali ke sungai terdekat dari tempat di mana dia tinggal. “Namun, tak jarang pas sampai di sana (sungai) airnya keruh dan berlumpur,” katanya penuh rasa kecewa.

Sejenak Tugardi mengusap dahinya dengan kulit yang sudah mengendur. Setiap garis di dahinya mengisyaratkan kehidupan yang penuh perjuangan. Sebab sedari dulu, untuk sampai di sungai, dia harus menempuh jarak sekitar 1-2 KM. Itu juga dengan medan yang menantang! Dan Mbah Tugardi melakukannya setiap hari.

Namun pria asli Dusun Ngasem itu tidak patah arang. Dia mencoba memecahkan masalahnya dengan membuat bendungan kecil di sungai, sehingga air yang terbendung menjadi sedikit lebih jernih dan layak untuk digunakan. “Saya juga buat bilik kecil untuk mandi dan salat,” ucap Mbah Tugardi sambil tersenyum tipis seperti menyatakan kemenangan kecil atas persoalan kekeringan yang menimpa dusunnya.

Bahkan, pernah pada 2019 Dusun Ngasem mengalami kekeringan parah. Sungai di mana Mbah Tugardi biasa memperoleh air mengalami penyusutan debit air. Satu-satunya sumber air di dusun tersebut mengering! Warga setempat kebingungan dan memunculkan masalah baru, yaitu timbulnya penyakit di tengah masalah kekeringan.

Ironisnya, warga Dusun Ngasem harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akibat dari akses yang jauh dan sulit menuju dusun tersebut, satu tangki ukuran kecil dihargai 250.000 rupiah. Ini adalah masa paceklik bagi warga Dusun Ngasem. Mereka harus membeli air di tanah airnya sendiri.

Siapa sangka? Pacitan yang dikaruniai Allah alam yang indah dengan garis pantai berpasir putih dan ombak yang memanjakan mata, serta gua-gua indah dan begitu natural, ternyata menyimpan sejumlah persoalan bagi keberlangsungan kehidupan saudara kita di sana. Secara geografis, Pacitan merupakan wilayah yang dikelilingi oleh pegunungan kapur sehingga tanah di daerah ini kering dan tidak subur.

Kini Mbah Tugardi Tak Harus Berjalan Jauh Dapatkan Air

Tanah dan air di daerah yang memiliki julukan kota seribu satu gua tersebut sangat memprihatinkan. Sumber pangan seperti padi tidak dapat tumbuh subur di sana. Belum lagi kekeringan dan sulitnya akses menuju sumber air melengkapi persoalan yang mengganggu keberlangsungan kehidupan saudara kita. Tugardi menjadi salah satu warga asli setempat yang merasakan dampak tersebut.

Karunia Allah berupa keindahan alam yang ada di bumi Pacitan tentu perlu dijaga dan dilestarikan. Masalah kekeringan yang menimpa penduduk di sana adalah masalah kita semua. Dompet Dhuafa sebagai lembaga filantropi yang menjunjung tinggi kemanusiaan telah melakukan langkah konkret dengan membuat titik sumur melalui instrumen wakaf di salah satu desa yang mengalami kesulitan air di Pacitan. Desa itu adalah tempat di mana Tugardi tinggal, seorang kakek tangguh yang tak menyerah di tengah keterbatasan.

Beberapa saat setelah sumur wakaf itu terealisasikan dan bisa dimanfaatkan oleh warga Dusun Ngasem, Tugardi mengalami penyakit yang tergolong berat. Stroke ringan menimpa dirinya. Kehadiran sumur ini seperti oase di tengah padang pasir yang kering dan tandus. Kini, Tugardi tidak perlu bersusah payah berjalan jauh untuk memperoleh air. Upaya pipanisasi ke tiap rumah juga tengah diupayakan oleh tim pengelola sumur wakaf setempat.

Di akhir pertemuan, Mbah Tugardi mengucapkan rasa terima kasih dan memanjatkan doa-doa kebaikan dalam bahasa jawa untuk Dompet Dhuafa. “Mugi-mugi panjenengan lan kanca-kanca ing Dompet Dhuafa pinaringan rejeki. (Saya berharap Anda dan teman-teman di Dompet Dhuafa diberkati dengan keberuntungan),” ungkapnya penuh khidmat. (Dompet Dhuafa Jatim / Markom /  Aldhi)

Tangkal Abrasi, DMC dan Beberapa Lembaga Tanam Ribuan Mangrove di Pacitan

Tangkal Abrasi, DMC dan Beberapa Lembaga Tanam Ribuan Mangrove di Pacitan

PACITAN, JAWA TIMUR — Kabupaten Pacitan terkenal dengan nuansa pesisir nan eksotis. Banyak lokasi wisata yang berada di kabupaten selatan Jawa Timur ini. Salah satunya ialah Pantai Soge dan Pantai Teban. Pantai Soge berlokasi di Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirejo, dan Pantai Teban di Desa Hadiwarno, Kecamatan Ngadirojo. Banyak orang menyebut kedua lokasi ini sebagai hidden gems destinasi wisata di Pacitan, Jawa Timur.

Meski termasuk dalam hidden gems, mereka juga memiliki bahaya laten yang belum diketahui banyak orang. Sehingga, yang awalnya adalah hidden gems menjadi hidden threats. Terutama di Pantai Soge sendiri ternyata rawan terjadi abrasi. Hal ini karena pesisir pantai tersebut berbatasan langsung dengan kekuatan gelombang air laut selatan.

Di satu sisi, sungai yang bermuara di Pantai Soge, mengalir dari arah utara dan berbatasan langsung dengan daratan yang merupakan pasir tambak. Pasir tambak tersebut terhimpit oleh muara sungai dan air laut. Fenomena perpindahan muara sungai yang acap kali mengubah bentuk daratan tersebut lebih dominan dipengaruhi oleh kekuatan gelombang pasang air laut dan bukan berasal dari limpahan arus Sungai Soge.

Simbolisasi serah terima mangrove oleh DMC Dompet Dhuafa kepada warga setempat

Dengan demikian kekuatan gelombang pasang tersebut yang menyebabkan daratan pantai di sekitar muara mengalami pergeseran, sehingga tidak dapat dipastikan letaknya. Akibat pergeseran dan abrasi ini, pada akhirnya menyebabkan tanaman sepanjang pantai yang rusak dan tumbang. Mulai dari tergerus air yang berasal dari danau maupun gempuran dari air laut.

Selain itu, di Pantai Soge masih minim jenis vegetasi pelindung bahaya dari tsunami. Misal pohon mangrove dan jenis pohon keras lainnya. Mengingat Pacitan termasuk wilayah yang memiliki potensi ancaman gempa besar yang kemudian mengakibatkan tsunami selatan jawa.

Lain halnya dengan Pantai Soge, Pantai Teban juga memiliki hidden threats-nya sendiri. Hutan mangrove yang berada di Pantai Teban telah mengalami kerusakan akibat pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Indikasinya yakni menjadikan daun-daun tanaman mangrove sebagai pakan hewan ternak. Hal ini merusak ekosistem di sekitar tanaman mangrove, buktinya tiada lagi biota laut seperti kepiting bakau yang berada di sekitarnya.

Di satu sisi, sebagian penduduk hanya antusias apabila dikoordinir oleh perangkat desa. Hal ini dikarenakan bahwa sebagian besar penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani setiap harinya sudah disibukkan oleh sawahnya, jadi tidak terlalu fokus untuk ikut merawat. Selain itu, sebagian masyarakat masih belum memiliki struktur dan kapasitas yang mapan dalam menghadapi kesiapsiagaan bencana salah satunya masih minim perlengkapan penunjang seperti alat pelindung diri (APD) dan perlengkapan yang mendukung penguatan proses kesiapsiagaan.

Sebanyak 2.050 pohon jenis mangrove dan pohon keras lainnya berhasil ditanam di Pantai Soge dan Pantai Teban, Pacitan.

Dengan kenyataan di atas, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menjadikan wilayah Kabupaten Pacitan, tepatnya Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirejo, sebagai Kawasan Tangguh dan Tanggap Bencana. Hari Minggu (30/10/2022) menjadi momentum penting. Pasalnya DMC Dompet Dhuafa bersama INDOFEST 2022, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan dan Komunitas Pandan Wangi Kebun Raya Banten mengadakan penanaman 2.050 pohon mangrove dan pohon keras lainnya di Pantai Soge dan Pantai Teban. Kegiatan ini berlangsung dalam rangka gerakan Sedekah Pohon penanaman mangrove dan pohon keras dilaksanakan serentak dengan uluran bantuan warga setempat.

Agus Sugiyanto selaku Kepala Desa Sidomulyo menyambut baik iktikad baik yang dilakukan oleh kawan-kawan dari INDOFEST 2022, BPBD Kabupaten Pacitan dan Komunitas Pandan Wangi Kebun Raya Banten. Hal ini mendorong motivasi warga dan pihak aparatur setempat untuk kembali membangun desa yang tangguh terhadap bencana. Menjadi sebuah Kawasan Tangguh dan Tanggap Bencana.

“Kami menyambut baik tentang kegiatan yang dilaksanakan oleh DMC Dompet Dhuafa. Karena memang setelah terjadi pasca musibah kemarin, menjadi motivasi kami untuk membangun kembali sarana dan prasarana pasca dilanda kerusakan kemarin,” jelasnya.

Relawan DMC sedang menanam pohon donasi dari Komunitas Pandan Wangi Kebun Raya Banten.

Agus menambahkan bahwa masyarakat sudah melakukan koordinasi dengan aparatur setempat mulai dari tingkat kecamatan dan kabupaten. Hasilnya melalui Dinas Pekerjaan Umum telah dicanangkan program pembuatan tanggul pengaman. Dengan demikian ini bisa menjadi upaya penanggulangan bencana destinasi wisata Pantai Soge.

“Sekali lagi tentunya kami mengucapkan terima kasih yang luar biasa atas respons DMC Dompet Dhuafa yang telah bersinergi dengan kami sehingga ini menjadi sebuah semangat baru. Agar masyarakat membangun kembali sarana dan prasarana yang rusak akibat bencana tersebut. Semoga ini bermanfaat bagi masyarakat. Juga kami ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan donatur INDOFEST. Terima kasih mudah-mudahan kerja sama ini akan lanjut dan terus ditingkatkan,” sambung Agus.

Agus juga menyatakan bahwa sebagian besar masyarakat sudah bisa mengantisipasi bencana abrasi. Karena menurutnya, masyarakat percaya bahwa ini merupakan siklus 5 (lima) tahunan sekali. Namun, meski sudah melakukan perencanaan matang, bencana alam selalu hadir di luar perkirakaan. Sehingga pertolongan dari berbagai pihak merupakan salah satu kunci penanggulngan bencana yang komprehensif.

Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Desa Sidomulyo, Suparli juga menuturkan hal serupa. Masyarakat sudah memiliki FPRB, namun forum tersebut masih terbilang baru. Sehingga aktivasi kegiatan PRB masih belum mapan.

“Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih kepada DMC Dompet Dhuafa bahwa kami Desa Sidomulyo telah diberikan pelajaran untuk menanam mangrove dan itu sangat berguna sekali serta sangat bermanfaat. Karena kami di sini FPRB kami memang belum lama berdiri dan tentang penanaman mangrove masih belum begitu paham sekali,” jelasnya.

Relawan DMC sedang menanam pohon donasi dari INDOFEST 2022.

Suparli berharap bahwa kegiatan ini bisa berlanjut dan meningkat hingga ke jenjang yang lebih tinggi dan lebih masif lagi. Ia menjelaskan, saat banjir terjadi, dampaknya sangat menggerus pantai atau bibir pantai. Namun sekarang telah dilaksanakan pemasangan batu besar (tanggul) untuk penahan air yang telah diinisiasi oleh masyarakat.

“Nanti kami mohon ada tindak lanjut bantuan dari DMC Dompet Dhuafa yaitu penanaman pohon yang sifatnya keras untuk pendamping atau meneruskan program dari batu yang telah dipasang. Sehingga nanti bisa tertampung air dan ditanam mangrove lagi. Dengan demikian mungkin ke depan bisa jadi tempat pariwisata. Kami ucapkan terima kasih kepada para donatur. Mudah-mudahan apa yang telah didonasikan menjadi baik untuk kita. Kedua menjadi manfaat atau menjadi amal barokah bagi para donatur,” ujar Suparli.

Bowo Prayogo selaku Ketua Karangtaruna Desa Sidomulyo menceritakan bahwa abrasi terparah terjadi di tahun 2022. Pada tahun 2022 abrasi telah menghilangkan lahan-lahan pariwisata di pantai. Hal itu terjadi dalam waktu seminggu. Dalam waktu seminggu, bencana abrasi telah menghabiskan lahan-lahan pariwisata. Tahun 2022, abrasi paling parah yang sudah terjadi di Pantai Soge di sini sampai menghabiskan lahan parawisata, terutama aset desa.

“Dampak abrasi salah satunya destinasi wisata yang berdekatan dengan pohon cemara tersebut. Dahulu tempat tersebut merupakan tempat wisata anak-anak. Karena tempatnya enak, aman dan teduh sehingga banyak anak-anak yang bermain di sana. Namun sekarang sudah tidak ada lagi,” pungkasnya.

Kegiatan ini merupakan juga sarana edukasi sebagai bentuk penyadaran ke masyarakat pengunjung, khususnya warga Desa Sidomulyo. Tentang pentingnya menjaga ekosistem mangrove. Selain itu juga untuk edukasi terhadap warga tentang tanaman pelindung yang berfungsi sebagai pemecah gelombang tsunami.

“Saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman DMC Dompet Dhuafa. Alhamdulillah terima kasih bantuannya telah ikut serta mendampingi Desa Sidomulyo untuk bisa bangkit kembali. Dan untuk teman-teman, dari INDOFEST terima kasih sekali atas partisipasinya supaya tidak ada bencana lagi,” tutup Bowo.

Haryo Mojopahit selaku Chief Executive DMC Dompet Dhuafa menjelaskan, DMC Dompet Dhuafa akan menjadikan Desa Sidomulyo sebagai Kawasan Tangguh dan Tanggap Bencana. Dengan menitikberatkan kepada program mitigasi dan kesiapsiagaan bencana gempa bumi, tsunami hingga abrasi. Sehingga penanaman mangrove dan pohon keras ini merupakan salah satu agenda besar masyarakat dan DMC Dompet Dhuafa dalam mewujudkan Indonesia Tangguh dan Tanggap Bencana.

Dalam waktu dekat, masyarakat dan DMC Dompet Dhuafa akan melakukan pembangunan bendungan pemecah ombak. Hal Ini sangatlah penting, karena merupakan upaya untuk mencegah terjadinya banjir bandang, dan juga untuk menjaga kestabilan dan kelestarian ekosistem dan keanekaragaman hayati di pesisir.

“Kami mohon dukungan dan bantuannya bersama DMC Dompet Dhuafa dalam rencana mewujudkan Kawasan Tangguh dan Tanggap Bencana di Desa Sidomulyo. Kami berharap dengan Kawasan Tangguh dan Tanggap Bencana ini mampu membantu warga dapat beraktivitas seperti biasa tanpa merasa cemas akan ancaman bencana yang mengintai,” jelasnya. (Dompet Dhuafa Jawa Timur/Markom/Aldi)