Header Dompet Dhuafa Jatim
Bantuan UMKM Berdaya, Program Recovery Banjir Bandang Batu

Bantuan UMKM Berdaya, Program Recovery Banjir Bandang Batu

Banjir Bandang Batu (04/11/2021) menyisakan duka yang sangat mendalam bagi Bu Yuli, seorang ibu rumah tangga yang memiliki usaha berjualan kue. Pada hari itu, banjir menghanyutkan seluruh alat usaha milik Bu Yuli padahal usaha tersebut telah didirikan sejak 18 tahun silam. Lima oven besar, freezer, delapan kompor besar, delapan kompor kecil, bahkan dapur pun ikut hanyut terbawa banjir. Padahal, usaha kue tersebut adalah satu-satunya sumber penghasilan dari keluarga Bu Yuli. Bahkan, delapan orang karyawan Bu Yuli terancam menganggur karena usaha Bu Yuli telah hanyut terbawa banjir bandang.

 

 

Alhamdulillah, kali ini Dompet Dhuafa Jawa Timur berkolaborasi dengan berbagai organisasi di Banyumas, juga bersama Dompet Dhuafa Australia yang dengan kerendahan hatinya bersedia membantu usaha Bu Yuli untuk bangkit kembali. Berbagai macam peralatan telah diberikan untuk usaha kue beliau. Semoga dengan dibantunya usaha Bu Yuli, delapan keluarga yang bergantung pada usahanya terbantu juga.

“Alhamdulillah usaha saya yang sempat hancur dan habis akibat banjir bandang, kini telah hidup kembali berkat bantuan semua donatur. Saya ucapkan beribu-ribu terimakasih, Barakallah, saya terima karena sangat bermanfaat bagi saya dan sekaligus ini adalah sebuah amanah bagi saya.” Ucap syukur Bu Yuli.

Dompet Dhuafa Salurkan Sepatu untuk Penyintas Semeru

Dompet Dhuafa Salurkan Sepatu untuk Penyintas Semeru

Selasa (18/01), Seperti yang kita tahu, letusan semeru meninggalkan dampak yang luar biasa bagi warga di sekitar lereng gunung. Tidak terkecuali anak-anak di lereng gunung Semeru yang adalah para siswa. Banyak dari mereka kehilangan seragam dan sepatu sekolahnya. Hari ini (18/01), Dompet Dhuafa menyalurkan kebutuhan pendidikan berupa sepatu lengkap dengan kaos kaki di Mts Miftahul ulum Pronojiwo.

Sekolah menengah yang ada di Pronojiwo ini jaraknya kisaran 10 km berada di kawasan rawan bencana 1, dan para siswanya mayoritas yang rumahnya hancur akibat erupsi 4 Desember lalu. Sebanyak 63 pasang sepatu, persembahan dari Moestopo dan From US To US telah di salurkan di Mts Miftahul ulum Pronojiwo.

“Sekitar ada 20 siswa yang sepatunya hilang akibat tertimbun pasir, seragam-pun juga banyak yang hilang maka dari itu para siswa pakainya seadanya mas, yang penting harus tetep belajar mengajar mengajar, untuk siswa lainya sepatunya juga banyak yang rusak. Terimaksih kepada donatur dan Dompet Dhuafa yang telah melengkapi keperluan siswa-siswi kami”, Ujar Abdul manaf (42), Kepsek Mts Miftahul ulum Pronojiwo.

Rumah Belajar DD Gelar Pelatihan Excel

Rumah Belajar DD Gelar Pelatihan Excel

Senin 17 Januari 2022, Dompet Dhuafa Jawa Timur melalui Program Rumah Belajar DD Jatim Madiun Menggelar Pelatihan Basic Microsoft Excel yang dihadiri Oleh kurang lebih 26 Peserta. Bersama pemateri bapak Ari yang merupakan pendidik Multimedia di sekolah Menengah Kejuruan.

Berlokasi di Kantor Unit Dompet Dhuafa Madiun, Agenda hari ini diawali dengan Khataman Al Qur’an yang merupakan kolaborasi kegiatan dari Mahasiswa IAIN Ponorogo. Dilanjutkan dengan Seminar pelatihan yang disampaikan dengan runtut dan jelas oleh bapak Ari, kerjasama dengan SMK Cendekia Madiun. Peserta tampak serius dan menuturkan bahwa program ini sangat membantu untuk kalangan masyarakat di era digital saat ini.

“Terimakasih telah mewadahi kami untuk membantu mengasah keahlian kami sehingga nantinya dapat bermanfaat untuk kami selanjutnya” tutur Esa, Mahasiswi İAİN Ponorogo Siang tadi.

 

Semoga kedepan acara seperti ini dapat digelar secara rutin. Dan semoga dengan dilaksanakan kegiatan ini, dapat memfasilitasi para generasi muda dan seluruh masyarakat yang memiliki keinginan untuk meningkatkan skill untuk bekal di dunia kerja.

Kisah Pasutri Sepuh Penyintas Semeru: Rumah dan Sawah Hancur, Bersyukur Cucunya Tak Gugur (Bagian Dua)

Kisah Pasutri Sepuh Penyintas Semeru: Rumah dan Sawah Hancur, Bersyukur Cucunya Tak Gugur (Bagian Dua)

LUMAJANG, JAWA TIMUR — Seakan Dusun Kajar Kuning, Desa Sumberwuluh, Kabupaten Lumajang, sudah menjadi bagian dari tubuhnya. Lahir di sana, besar di sana, mencari kehidupan di sana. Menjalani kehidupan tanpa terjadi bencana sejak kecil, Pak Hasyim merasa sangat nyaman dan tentram menjadi warga Dusun Kajar Kuning.

Rumah berlatar belakang Gunung Semeru yang gagah menjulang menembus awan, halaman rumah yang luas dengan berbagai macam tumbuhan cantik, tetangga-tetangga yang super ramah, suhu yang sejuk tanpa harus memasang AC, juga dikelilingi oleh lahan-lahan pertanian maupun perkebunan dengan air yang melimpah, menjadikan Pak Hasyim selalu memanjatkan syukur kepada Allah, Sang Pemilik Alam Semesta. Hal tersebut juga ia tularkan kepada istri, serta anak dan cucu-cucunya.

Maka sangat tak disangka, dengan tanpa aba-aba, Gunung Semeru mengalirkan lahar dingin ke arah pemukiman Dusun Kajar Kuning ditambah semburan dan hamburan awan panas yang menghujaninya dengan dahsyat. Tidak hanya itu, guncangan akibat erupsi juga menambah besar dampak bencana ini hingga rumah-rumah banyak yang rusak, tak terkecuali rumah Pak Hasyim.

“Mboten nyono, kula 65 tahun urip teng mriki teruse wonten bencana niki. Biasane nggeh mung gluduk-gluduk mawon. Mboten nate lahar nyampe Kajar Kuning (Tidak nyangka, Saya 65 tahun di sini kemudian terjadi bencana sebesar ini. Biasanya ya cuma petir-petir saja. Tidak pernah sampai ada lahar sampai di Kajar Kuning),” kata Pak Hasyim di dampingi sang istri saat bercerita kepada tim Dompet Dhuafa di tenda pengungsian di Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro, pada Selasa (28/12/2021).

Tidak hanya rumah tempat tinggal yang hancur, melainkan juga lahan-lahan pertanian dan perkebunan serta peternakan juga menjadi sasaran dampak musibah dahsyat ini. Padahal, warga di sana memanglah bermata pencaharian utama sebagai petani dan peternak. Lahan serta penghasilan Pak Hasyim pun tak luput dari yang terdampak.

Kesehariannya bersama sang istri adalah bertani dan berkebun. Tidak ada aktivitas lain selain itu kecuali menjualkan hasil tani dan kebunnya berupa padi dan cabai.

Masih dengan nada pilu, Sukarminah sang istri menyebutkan, bahwa seharusnya Hari Minggu ia sudah mulai memanen cabai, namun pada Sabtu sore, sehari bahkan beberapa jam sebelum waktu itu tiba, semuanya seketika lenyap tak tersisa. Tidak hanya itu, lima hari setelah erupsi, seharusnya padi yang ia tanam bersama sang suami sudah siap untuk dipanen.

“Ini sebenarnya sudah waktunya panen. Tapi sudah habis semua cabai-cabainya dan padi-padinya. Sebelum kejadian, cabainya itu sudah-merah-merah, padinya pun sudah kering. Sudah waktung dipanen pokoknya. Harusnya, cabaing besoknya sudah mulai panen. Padinya kurang lima hari lagi juga sudah panen. Semuanya sudah habis, tapi Alhamdulillah yang penting orang-orangnya selamat,” lanjut cerita Bu Sukarminah.

Bila mengingat peristiwa itu, isak tangis sedih serta tetesan air mata tiba-tiba mengucur tak terbendung dari mata ibu berdarah Madura ini. Meskipun dirinya dan keluarga selamat dari bencana maut, namun bingkai-bingkai film menakutkan itu masih kerap terputar jelas dibenaknya.

Sukarminah dan sang suami saat ini masih belum terfikir untuk bagaimana memulainya lagi dari nol. Yang menjadi sangat penting untuk saat ini adalah tempat tinggal. Ia berharap rencana relokasi yang digagas oleh pemerintah melalui lembaga-lembaga sosial seperti Dompet Dhuafa dapat segera terwujud.

“Semoga rencana relokasi itu benar ada dan diwujudkan. Saat ini yang kami butuhkan adalah tempat tinggal, karena saya masih harus merawat kedua cucu saya yang yatim itu. Yang lainnya insyaAllah akan difikirkan kalau cucu-cucu saya sudah nyaman punya tempat tinggal,” tandasnya. (Dompet Dhuafa Jatim / Aldhi)

Kisah Pasutri Sepuh Penyintas Semeru: Rumah dan Sawah Hancur, Bersyukur Cucunya Tak Gugur (Bagian Satu)

Kisah Pasutri Sepuh Penyintas Semeru: Rumah dan Sawah Hancur, Bersyukur Cucunya Tak Gugur (Bagian Satu)

LUMAJANG, JAWA TIMUR — Tak pernah terbayangkan oleh warga di sekitar lereng Gunung Semeru, yang akan mengalami bencana erupsi pada awal Desember 2021 lalu, Sabtu (4/12/2021). Gunung tertinggi di Pulau Jawa itu memuntahkan guguran awan panas tanpa diduga sebelumnya. Langit yang mulanya cerah mendadak gelap gulita. Hujan disertai abu hitam turun bercampur gumpalan-gumpalan lumpur. Begitulah yang diceritakan oleh pasangan suami istri, Hasyim (65) dan Sukarminah (56), warga Dusun Kajar Kuning, Desa Sumberwuluh, Kabupaten Lumajang, Jawa Timur.

Guguran awan panas Gunung Semeru meninggalkan kisah pilu bagi keluarga Hasyim. Bencana yang datang secara tiba-tiba, membuat Pak Hasyim dan warga lainnya panik berhamburan menyelamatkan diri. Saat peristiwa itu, ia bersama sang istri harus berjibaku dengan abu vulkanik menyelamatkan diri dan dua cucunya yang yatim. Rumah yang berpuluh-puluh tahun ia tinggali, ambruk menimpa barang-barang di dalamnya.

Saat ditemui oleh tim Dompet Dhuafa di tenda pengungsian di Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro, Hasyim menceritakan kondisi pilu rumahnya. Ia tak menyangka bisa kehilangan rumah yang merupakan aset kehidupannya. Bagian belakang rumahnya ambruk, bagian depannya pun juga ambruk. Atap rumah yang terbuat dari asbes pun lepas dan hilang dari kerangka-kerangkanya. Barang-barang berharga yang tak sempat ia selamatkan pun terkubur abu lumpur bahkan sebagian hilang entah terbawa angin atau hujan.

“Kondisi griyane, nggeh, ambyuk. Wingking ambyuk, ngajeng ambyuk. Atape asbes nggeh mboten karu-karuan sampunan (Kondisi rumahnya, ya, ambruk. Bagian belakang ambruk, bagian depan ambruk. Atap asbes juga tidak karuan sudahan),” jelasnya mendiskripsikan kondisi rumah, Selasa (28/12/2021).

Rumah Pak Hasyim jelas sudah tak bisa ia tempati lagi. Bahkan meski diperbaiki pun tidak mungkin untuk dijadikan tempat layak tinggal. Pemerintah setempat juga telah mengumumkan bahwa Dusun Kajar Kuning sudah dinyatakan tidak layak lagi untuk ditinggali. Sebab menjadi zona bahaya yang berpotensi bencana serupa akan menimpa kembali.

“Di sana sudah tidak boleh ditempati lagi. Melihat lokasinya saja sudah trauma. Mau tidak mau, ya memang harus pindah. Sementara ini saya dan istri mengungsi di posko ini. Kalau cucu-cucu, saya titipkan di rumah paman dan bibinya. Karena supaya lebih aman dan nyaman,” lanjut Pak Hasyim.

Ditengah-tengah musibah yang begitu dahsyat menimpa, namun Pak Hasyim berulang kali mengucapkan syukur. Hal pertama yang paling ia syukuri adalah keselamatan keluarganya yang berhasil keluar dari musibah dengan keadaan hidup dan sehat. Menurutnya, biarlah harta, benda, rumah dan sawah hilang, yang penting dirinya, istri, dan kedua cucunya selamat dari musibah.

Tatkala APG Gunung Semeru menerjang dengan dahsyat kala itu, yang dilakukan Pak Hasyim dan Bu Sukarminah adalah memeluk erat kedua cucunya sembari berulang-ulang memohon doa keselamatan. Kalimat-kalimat istighfar, tahlil, dan takbir, tak terhitung yang terucap dari bibir kedua pasangan ini.

Usai hamburan awan panas sedikit mereda kala itu, Pak Hasyim, Bu Sukarminah, juga kedua cucunya beserta warga lainnya, bergegas menuju tempat yang aman. Pergilah mereka berempat ke rumah sanak keluarganya di lain desa yang dinyatakan aman.

“Setelah itu kami berempat ngungsi di rumah saudara,” kata Bu Sukarminah.

Beberapa hari setelah gunung terlihat aman, serta diperbolehkannya para penyintas untuk mendatangi lokasi bencana oleh BNPB, Pak Hasyim mencoba menyambangi rumahnya. Ia ke sana untuk menengok bagaimana kondisi rumah sekaligus melihat-lihat apa sekiranya yang bisa diselamatkan.

“Habis semuanya. Rumahnya saja tidak bisa dimasuki ,” ucapnya pilu.

Meski jelas tak punya tempat tinggal, namun pasangan ini tetap saja merasa tak enak menumpang di rumah saudara. Alih-alih takut membebani, dua minggu berselang mereka berdua kemudian memilih untuk pindah ke tenda pengungsian yang disediakan oleh Kemensos di lapangan Desa Penanggal. Meski begitu, dua cucunya tetap dititipkan di rumah saudaranya karena akan lebih nyaman dan aman.

Saat ini, yang paling dibutuhkan oleh Pak Hasyim dan keluarganya adalah tempat tinggal. Tinggal berdesakan di tenda pengungsian tentu semakin lama akan banyak menimbulkan persoalan lain salah satunya kesehatan para pengungsi. Selain itu, Pak Hasyim dan Bu Sukarminah ingin segera memulai kehidupan baru entah sebagai apa untuk terus menghidupi keluarganya. (Dompet Dhuafa Jatim/Aldhi)

Relawan Mengajar, Dompet Dhuafa Pendidikan Ajak Anak-anak Pengungsi Candipuro Bermain Sambil Belajar

Relawan Mengajar, Dompet Dhuafa Pendidikan Ajak Anak-anak Pengungsi Candipuro Bermain Sambil Belajar

LUMAJANG, JAWA TIMUR — Relawan Mengajar sebagai salah satu Klaster Bencana Semeru yang menjadi aksi respon oleh Dompet Dhuafa, mengajak anak-anak pengungsi untuk bermain dan belajar. Kali ini, tim Relawan Mengajar Dompet Dhuafa hadir di pengungsian Tenda Belajar Desa Kebun Deli, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang, pada Jumat (24/12/2021).

Empat pengajar yaitu Siska, Yustia, Nita dan Binti menyisipkan keseruan bermain dengan menggelar lembaran besar bergambar ular tangga, lengkap dengan dadunya. Secara bergantian, sebanyak 36 anak di pengungsian ini memainkan ular tangga dengan pion yang langsung diperankan oleh masing-masing anak. Setiap kotak ular-tangga mengarahkan para pemainnya untuk melakukan hal-hal yang berkaitan dengan kebaikan dan kemanusiaan.

Di samping itu, aksi penyediaan makanan sehat yaitu Corner Gizi (COZI) Dompet Dhuafa juga hadir untuk mensuplai gizi anak-anak pengungsi.

Siska Mumtaz selaku PIC pada aksi tersebut mengatakan, pada kegiatan ini, tim respon Dompet Dhuafa Pendidikan di Candipuro ingin mengajak anak-anak Desa Kebun Deli untuk berceria dengan belajar sambil bermain bersama. Secara spesifik, aksi yang dilakukan adalah dengan melakukan pembiasaan literasi membaca kepada anak-anak selama 15-20 menit, kemudian berhitung, membuat Surat cinta untuk Ibu, dan berkreasi dgn kertas lipat. Kemudian dilanjutkan dengan bermain ular tangga.

“Aksi ini terus kami lakukan setiap harinya di beberapa titik-titik pengungsian. Mudah-mudahan upaya kami ini dapat membangun meringankan beban mental para penyintas terutama anak-anak serta mengembalikan keceriaan mereka,” ucapnya.

Yudistira Gilang Pratama, salah satu anak kelas 6 SD yang ikut pada aksi ini menceritakan curahan hatinya kepada kakak-kakak Relawan Mengajar. Ia mengaku sudah mulai bosan di tempat pengungsian. Ia mulai merindukan suasana rumahnya yang dulu. Teman-teman bermainnya pun sudah berpencar ke titik-titik pengungsian yang lain.

“Waktu itu lagi main bola sama temen temen. Trus dipanggil sama pak kampung suruh persiapan suruh berangkat ke atas jembatan. Di sini kemaren kena asap dan debu semua. Sama pak RT disuruh pakai masker semua. Di sini ngungsinya ga enaknya temen-temen banyak mencar,” ceritanya. (Dompet Dhuafa Jatim/Aldhi)

Kado Akhir Tahun Bukalapak dan Dompet Dhuafa Bangkitkan Senyum Penyintas Bencana APG Semeru

Kado Akhir Tahun Bukalapak dan Dompet Dhuafa Bangkitkan Senyum Penyintas Bencana APG Semeru

LUMAJANG, JAWA TIMUR — Pada Selasa (4/1/2022), Bukalapak dan Dompet Dhuafa berupaya bangkitkan senyuman penyintas bencana awan panas guguran (APG) Semeru dengan memberikan 35 paket sembako Kado Akhir Tahun. Adapun titik distribusi merupakan penyintas warga terdampak yang mengungsi di Dusun Krajan dan Dusun Pancut di Desa Kloposawit, Kecamatan Candipuro, Kabupaten Lumajang.

Bencana APG Semeru yang terjadi pada 4 Desember 2021 lalu menyisakan banyak luka bagi warga Lumajang. Tercatat data yang dikumpulkan oleh Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa  per 27 Desember 2021 ada 51 jiwa meninggal dunia, jumlah warga mengungsi berjumlah 10.400 jiwa, yang tersebar di 410 titik pengungsian.

Pengungsian terkonsentrasi di 3 kecamatan, yaitu Pasirian 17 titik dengan 1.746 jiwa, Candipuro 21 titik 4.645 jiwa dan Pronojiwo 8 titik 1.077 jiwa. Sedangkan di luar Kabupaten Lumajang, pengungsian berada di Kabupaten Malang 9 titik 341 jiwa, Blitar 1 titik 3 jiwa, Jember 3 titik 13 jiwa dan Probolinggo 1 titik 11 jiwa. Kemudian sebanyak 2.970 rumah, 25 fasilitas pendidikan dan 47 fasilitas umum terdampak.

“Kita membuka tangan selebar-lebarnya bagi mitra yang ingin turut serta dalam program kebaikan membantu penyintas bencana APG Semeru. Selain logistik DMC Dompet Dhuafa juga tengah fokus mengerahkan program-program paska bencana (recovery) salah satunya ialah pembuatan sumur bor dan hunian sementara kerja sama dengan pemerintah daerah Lumajang. Semoga sinergi ini tetap terjaga hingga ketika kita kembali ke Lumajang, kehidupan masyarakat sudah kembali atau lebih baik lagi dibandingkan seusai turunnya APG Semeru,” pungkas Haryo Mojopahit selaku Chief Executive DMC Dompet Dhuafa.

Berdasarkan laporan per 27 Desember, DMC Dompet Dhuafa telah memberikan layanan bagi penyintas bencana APG Semeru berupa SAR-Evakuasi, Pos Hangat (1.150 penerima manfaat), Dapur Umum (3.323 penerima manfaat), Dapur Keliling (1.300 penerima manfaat), Layanan Kesehatan (1.603 penerima manfaat), Pojok Laundry (175 penerima manfaat), Psychological First Aid /PFA (416 penerima manfaat), Potong Rambut (14 penerima manfaat), dan layanan WASH berupa pemberian tempat sampah serta Aksi Bersih Itu Sehat dengan total penerima manfaat mencapai 367 orang.

Selain itu DMC Dompet Dhuafa juga membantu bangun Sumur Bor di Kajang Kosong, Desa Sumberwuluh, Kecamatan Candipuro. Tidak lupa juga, Dompet Dhuafa terpilih menjadi salah satu mitra dalam pembuatan hunian sementara (huntara) yang digagas oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Lumajang.

Ibu Ulum salah satu penerima manfaat Kado Akhir Tahun menuturkan banyak terima kasih atas bantuannya. Hingga kini mendiang suaminya belum ditemukan, almarhum suami merupakan buruh tambang yang bekerja di Penambang H. Satuhan. Ibu Ulum sudah memberikan DNA anak mereka untuk segera identifikasi korban-korban yang sudah ditemukan. Namun hasilnya masih nihil.

“Terima kasih para pengguna bukadonasi Bukalapak,” pungkasnya. (Dompet Dhuafa Jatim / Aldhi)

Gelar I-HitS 2022, Dompet Dhuafa Bongkar Skema Capaian Tahun 2021

Gelar I-HitS 2022, Dompet Dhuafa Bongkar Skema Capaian Tahun 2021

JAKARTA — Membuka gelaran Indonesian Humanity Summit (I-HitS) 2022 pada Selasa (4/1/2021), di Gedung SMESCO Jakarta Selatan, Bambang Suherman selaku Direktur Komunikasi dan Aliansi Strategis Dompet Dhuafa, memaparkan berbagai gagasan yang dikelola Dompet Dhuafa dalam ragam program untuk mengentaskan kemiskinan di Indonesia.

Bahwa ternyata di bawah garis kemiskinan, di sekitar kita tidak homogen. Dari pengalaman Dompet Dhuafa, paling tidak kemiskinan terbagi dalam 3 (tiga) segmen. Miskin menyerah (tidak berdaya), miskin berpotensi (kelompok anak muda yang terbatas), miskin beraset (perlu pendampingan). Ketiga segmen ini bisa mendapat pelayanan yang baik, lalu ditumbuhkan kapasitasnya agar menjadi lebih mandiri di atas garis kemiskinan tersebut.

“Selama 28 tahun perjalanan Dompet Dhuafa itu tidak singkat. Kami juga telah banyak melakukan proses-proses untuk mendapatkan metode terbaik yang paling efektif dan efisien, yang bisa memberikan dampak yang paling besar bagi masyarakat. Kami dipandu oleh satu visi yang cukup kuat, yang telah ditanamkan sejak Dompet Dhuafa pertama kali hadir di muka bumi ini,” aku Bambang Suherman.

“Yaitu, mewujudkan masyarakat global yang berdaya melalui kegiatan pelayanan, pemberdayaan, dan pembelaan, dengan sistem yang berkeadilan. Ini menempatkan Dompet Dhuafa untuk berkiprah pada skema di atas dan di bawah garis kemiskinan,” lanjutnya.

Berdiri di depan ratusan khalayak, Ia juga menyebutkan, ada 3 tujuan skema pengelolaan kemiskinan Dompet Dhuafa. Menggulirkan Layanan (pada darurat kemiskinan, akses, juga aset), pendampingan program Pemberdayaan (berupa modal, produk, serta pasar), hingga Pembelaan (berupa kebijakan, pendampingan hukum, juga jaringan). Sehingga Dompet Dhuafa mengelola Mustahik, yang berkembang dan menempatkannya sebagai Mitra, hingga berdaya dan mandiri sebagai Muzzaki.

“Nah, yang telah dilakukan Dompet Dhuafa dengan skema-skema inilah, kemudian mewujud menjadi capaian-capaian. Sehingga di tahun 2021 ini, telah mengembangkan partisipasi publik senilai Rp424 Miliar lebih. Dan ini adalah bentuk KolaborAksi yang sekarang sedang dikelola oleh kita bersama-sama,” aku Bambang Suherman.

Berdiri di depan ratusan khalayak, Ia juga menyebutkan, ada 3 tujuan skema pengelolaan kemiskinan Dompet Dhuafa. Menggulirkan Layanan (pada darurat kemiskinan, akses, juga aset), pendampingan program Pemberdayaan (berupa modal, produk, serta pasar), hingga Pembelaan (berupa kebijakan, pendampingan hukum, juga jaringan). Sehingga Dompet Dhuafa mengelola Mustahik, yang berkembang dan menempatkannya sebagai Mitra, hingga berdaya dan mandiri sebagai Muzzaki.

“Nah, yang telah dilakukan Dompet Dhuafa dengan skema-skema inilah, kemudian mewujud menjadi capaian-capaian. Sehingga di tahun 2021 ini, telah mengembangkan partisipasi publik senilai Rp424 Miliar lebih. Dan ini adalah bentuk KolaborAksi yang sekarang sedang dikelola oleh kita bersama-sama,” aku Bambang Suherman.

“Ya, mewujud menjadi intervensi kepada 3 Juta lebih Penerima Manfaat di Indonesia. Tentu saja ini bukan pekerjaan yang besar kalau kita bandingkan dengan PR kemiskinan yang harus kita hadapi. Tetapi kita memulai dari sini, dan saya berharap dengan acara ini, akan memperkuat kembali kolaboraksi di antara kita, sehingga sumber daya kolaborasinya menjadi lebih besar dan penerima manfaatnya turut lebih luas,” serunya.

Bambang Suherman juga mengungkapkan, suatu bentuk syukur bagi Dompet Dhuafa untuk menginspirasi gerakan zakat, gerakan kemanusiaan di dunia ini. Memperkuat KolaborAksi kita bersama dan KolaborAksi Bangun Negeri yang nantinya akan bermanfaat bagi masyarakat, terutama bagi mereka yang miskin, marginal, yang penuh keterbatasan.

Paparan selanjutnya dalam I-HitS 2022, turut menghadirkan Flip, sebuah aplikasi digital keuangan untuk melakukan transfer antar bank dengan tanpa biaya. Eko Priyanto selaku Head of Enterprise Sales Flip, sebelumnya menyampaikan, ketiga founder Flip, yang salah satunya adalah Rafi Putra Arriyan selaku Co-Founder & CEO Flip, ialah juga merupakan Alumni Beasiswa Aktivis Dompet Dhuafa di tahun 2013.

“Flip terbentuk di 2015, sebagai pioner solusi penyedia layanan transfer antar bank dengan gratis biaya admin. Dan seperti yang Pak Bambang sampaikan, bahwa saat ini adalah waktu yang sangat luar biasa dan challanging untuk paling besar tujuannya adalah saling berkolaborasi. Karena masing-masing dari kita pasti memiliki kemampuan yang saya rasa itu yang perlu dikolaborasi,” ujar Eko.

Ya, Dompet Dhuafa menginisiasi gelaran I-HitS 2022, sebagai bentuk rangkaian agenda tahunan Public Expose dan Social Humanity Outlook. Dengan menghadirkan ragam Narasumber ternama dalam bidang tema sosial kemanusiaan, ekonomi syariah, inovasi teknologi, dan lainnya, yang berlangsung selama 2 (dua) hari sejak tanggal 4 – 5 Januari 2022. Disana, Dompet Dhuafa juga menghadirkan berbagai programnya dalam pameran booth kemanusiaan, yang diramaikan oleh LKC (Layanan Kesehatan Cuma-cuma), DMC (Disaster Mangement Center), LPM (Lembaga Pelayan Masyarakat), LPI (Lembaga Pengembangan Insani), Zona Madina, DD Tekno, DD Konstruksi, DDP (Digdaya Dinamika Publika), Institut Kemandirian, KMM (Karya Masyarakat Mandiri), STIM Budi Bakti, juga Kampus Bisnis Umar Usman. (Dompet Dhuafa Jawa Timur/Aldhi)

Save The Children Melalui Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan, Hari ini Jadwal Sosialisasinya

Save The Children Melalui Dompet Dhuafa Salurkan Bantuan, Hari ini Jadwal Sosialisasinya

Seperti yang kita ketahui Pandemi sangat mempengaruhi hampir seluruh lini kehidupan, salah satunya transportasi. Porter, orang yang dibayar untuk membantu membawa barang saat kereta tiba pun turut terdampak. Menurunya aktivitas di stasiun menjadikan penghasilan mereka turut turun juga.

 

Hari ini Dompet Dhuafa mengadakan sosialisasi kepada para porter stasiun untuk registrasi penerimaan bantuan non tunai multiguna dari Save The Children. Acara ini dihadiri lebih dari 80 porter stasiun pasar turi dan akan dilanjutkan dengan sosialisai untuk para porter di Stasiun Gubeng. Bantuan ini diharapkan dapat membantu pemasukan para porter yang terdampak pandemi.

 

Selain bantuan non tunai multiguna yang akan dibagikan kepada para porter, Save The Children melalui Dompet Dhuafa juga akan menyalurkan bantuan untuk pedagang kecil terdampak pandemi, Anak Yatim, para disabilitas dan ojek online. Save The Children juga menyalurkan bantuan tabung oksigen dan alat kesehatan kepada Dompet Dhuafa. Target penerima manfaat dari program ini sebanyak 925 penerima manfaat.