Header Dompet Dhuafa Jatim
Kini Mbah Tugardi Tak Harus Berjalan Jauh Dapatkan Air

Kini Mbah Tugardi Tak Harus Berjalan Jauh Dapatkan Air

PACITAN, JAWA TIMUR — “Ya beginilah kondisi dusun kami. Keberadaan sumur wakaf ini sangat membantu warga di sini. Terima kasih mas,” Ucap Tugardi, pria lanjut usia (lansia) berusia sekitar 70 tahun saat ditemui Dompet Dhuafa pada Selasa (25/10/2022).

Tugardi tinggal di Dusun Ngasem, Desa Gembong, Kecamatan Arjosari, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Kediaman Tugardi begitu jauh dari pusat kota, bahkan butuh waktu sekitar satu jam lebih untuk sampai ke sana. Jalan yang dilalui juga berbatu, menanjak, dan tak jarang berlumpur bila usai hujan turun. Perjalanan itu juga tidak bisa ditempuh dengan mobil yang biasa melintasi ibu kota. Melainkan dengan mobil model Jeep yang telah dimodifikasi menyesuaikan medan yang dilalui.

Pria lansia yang akrab disapa Mbah Tugardi itu berjalan menggunakan tongkat dari kayu saat menyambut kedatangan Dompet Dhuafa. Lalu dia duduk di selasar surau seraya meletakkan tongkatnya dengan tangan bergetar. Maklum, usianya tidak lagi muda. Surau itu terletak bersebelahan dengan penampungan sumur wakaf yang diinisiasi oleh Dompet Dhuafa.

Kini Mbah Tugardi Tak Harus Berjalan Jauh Dapatkan Air

Mbah Tugardi bercerita, dulu sebelum ada sumur wakaf tersebut, dia harus pergi ke sungai untuk mendapatkan air. Walau sudah berusia lanjut, tubuh Tugardi masih cukup tegap. Dengan tubuhnya itu dia menyusuri jalan menuju sungai untuk memperoleh air. Bagaimanapun juga air adalah kebutuhan dasar setiap makhluk hidup. “Mau tidak mau, saya harus ambil air ke sungai. Karena kita semua butuh itu”, ujar Tugardi sambil menatap lurus ke depan.

Dia mengatakan untuk memenuhi kebutuhan air dalam sehari, sedikitnya Tugardi harus bolak-balik 4 kali ke sungai terdekat dari tempat di mana dia tinggal. “Namun, tak jarang pas sampai di sana (sungai) airnya keruh dan berlumpur,” katanya penuh rasa kecewa.

Sejenak Tugardi mengusap dahinya dengan kulit yang sudah mengendur. Setiap garis di dahinya mengisyaratkan kehidupan yang penuh perjuangan. Sebab sedari dulu, untuk sampai di sungai, dia harus menempuh jarak sekitar 1-2 KM. Itu juga dengan medan yang menantang! Dan Mbah Tugardi melakukannya setiap hari.

Namun pria asli Dusun Ngasem itu tidak patah arang. Dia mencoba memecahkan masalahnya dengan membuat bendungan kecil di sungai, sehingga air yang terbendung menjadi sedikit lebih jernih dan layak untuk digunakan. “Saya juga buat bilik kecil untuk mandi dan salat,” ucap Mbah Tugardi sambil tersenyum tipis seperti menyatakan kemenangan kecil atas persoalan kekeringan yang menimpa dusunnya.

Bahkan, pernah pada 2019 Dusun Ngasem mengalami kekeringan parah. Sungai di mana Mbah Tugardi biasa memperoleh air mengalami penyusutan debit air. Satu-satunya sumber air di dusun tersebut mengering! Warga setempat kebingungan dan memunculkan masalah baru, yaitu timbulnya penyakit di tengah masalah kekeringan.

Ironisnya, warga Dusun Ngasem harus membeli air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akibat dari akses yang jauh dan sulit menuju dusun tersebut, satu tangki ukuran kecil dihargai 250.000 rupiah. Ini adalah masa paceklik bagi warga Dusun Ngasem. Mereka harus membeli air di tanah airnya sendiri.

Siapa sangka? Pacitan yang dikaruniai Allah alam yang indah dengan garis pantai berpasir putih dan ombak yang memanjakan mata, serta gua-gua indah dan begitu natural, ternyata menyimpan sejumlah persoalan bagi keberlangsungan kehidupan saudara kita di sana. Secara geografis, Pacitan merupakan wilayah yang dikelilingi oleh pegunungan kapur sehingga tanah di daerah ini kering dan tidak subur.

Kini Mbah Tugardi Tak Harus Berjalan Jauh Dapatkan Air

Tanah dan air di daerah yang memiliki julukan kota seribu satu gua tersebut sangat memprihatinkan. Sumber pangan seperti padi tidak dapat tumbuh subur di sana. Belum lagi kekeringan dan sulitnya akses menuju sumber air melengkapi persoalan yang mengganggu keberlangsungan kehidupan saudara kita. Tugardi menjadi salah satu warga asli setempat yang merasakan dampak tersebut.

Karunia Allah berupa keindahan alam yang ada di bumi Pacitan tentu perlu dijaga dan dilestarikan. Masalah kekeringan yang menimpa penduduk di sana adalah masalah kita semua. Dompet Dhuafa sebagai lembaga filantropi yang menjunjung tinggi kemanusiaan telah melakukan langkah konkret dengan membuat titik sumur melalui instrumen wakaf di salah satu desa yang mengalami kesulitan air di Pacitan. Desa itu adalah tempat di mana Tugardi tinggal, seorang kakek tangguh yang tak menyerah di tengah keterbatasan.

Beberapa saat setelah sumur wakaf itu terealisasikan dan bisa dimanfaatkan oleh warga Dusun Ngasem, Tugardi mengalami penyakit yang tergolong berat. Stroke ringan menimpa dirinya. Kehadiran sumur ini seperti oase di tengah padang pasir yang kering dan tandus. Kini, Tugardi tidak perlu bersusah payah berjalan jauh untuk memperoleh air. Upaya pipanisasi ke tiap rumah juga tengah diupayakan oleh tim pengelola sumur wakaf setempat.

Di akhir pertemuan, Mbah Tugardi mengucapkan rasa terima kasih dan memanjatkan doa-doa kebaikan dalam bahasa jawa untuk Dompet Dhuafa. “Mugi-mugi panjenengan lan kanca-kanca ing Dompet Dhuafa pinaringan rejeki. (Saya berharap Anda dan teman-teman di Dompet Dhuafa diberkati dengan keberuntungan),” ungkapnya penuh khidmat. (Dompet Dhuafa Jatim / Markom /  Aldhi)

Tangkal Abrasi, DMC dan Beberapa Lembaga Tanam Ribuan Mangrove di Pacitan

Tangkal Abrasi, DMC dan Beberapa Lembaga Tanam Ribuan Mangrove di Pacitan

PACITAN, JAWA TIMUR — Kabupaten Pacitan terkenal dengan nuansa pesisir nan eksotis. Banyak lokasi wisata yang berada di kabupaten selatan Jawa Timur ini. Salah satunya ialah Pantai Soge dan Pantai Teban. Pantai Soge berlokasi di Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirejo, dan Pantai Teban di Desa Hadiwarno, Kecamatan Ngadirojo. Banyak orang menyebut kedua lokasi ini sebagai hidden gems destinasi wisata di Pacitan, Jawa Timur.

Meski termasuk dalam hidden gems, mereka juga memiliki bahaya laten yang belum diketahui banyak orang. Sehingga, yang awalnya adalah hidden gems menjadi hidden threats. Terutama di Pantai Soge sendiri ternyata rawan terjadi abrasi. Hal ini karena pesisir pantai tersebut berbatasan langsung dengan kekuatan gelombang air laut selatan.

Di satu sisi, sungai yang bermuara di Pantai Soge, mengalir dari arah utara dan berbatasan langsung dengan daratan yang merupakan pasir tambak. Pasir tambak tersebut terhimpit oleh muara sungai dan air laut. Fenomena perpindahan muara sungai yang acap kali mengubah bentuk daratan tersebut lebih dominan dipengaruhi oleh kekuatan gelombang pasang air laut dan bukan berasal dari limpahan arus Sungai Soge.

Simbolisasi serah terima mangrove oleh DMC Dompet Dhuafa kepada warga setempat

Dengan demikian kekuatan gelombang pasang tersebut yang menyebabkan daratan pantai di sekitar muara mengalami pergeseran, sehingga tidak dapat dipastikan letaknya. Akibat pergeseran dan abrasi ini, pada akhirnya menyebabkan tanaman sepanjang pantai yang rusak dan tumbang. Mulai dari tergerus air yang berasal dari danau maupun gempuran dari air laut.

Selain itu, di Pantai Soge masih minim jenis vegetasi pelindung bahaya dari tsunami. Misal pohon mangrove dan jenis pohon keras lainnya. Mengingat Pacitan termasuk wilayah yang memiliki potensi ancaman gempa besar yang kemudian mengakibatkan tsunami selatan jawa.

Lain halnya dengan Pantai Soge, Pantai Teban juga memiliki hidden threats-nya sendiri. Hutan mangrove yang berada di Pantai Teban telah mengalami kerusakan akibat pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab. Indikasinya yakni menjadikan daun-daun tanaman mangrove sebagai pakan hewan ternak. Hal ini merusak ekosistem di sekitar tanaman mangrove, buktinya tiada lagi biota laut seperti kepiting bakau yang berada di sekitarnya.

Di satu sisi, sebagian penduduk hanya antusias apabila dikoordinir oleh perangkat desa. Hal ini dikarenakan bahwa sebagian besar penduduk yang bermata pencaharian sebagai petani setiap harinya sudah disibukkan oleh sawahnya, jadi tidak terlalu fokus untuk ikut merawat. Selain itu, sebagian masyarakat masih belum memiliki struktur dan kapasitas yang mapan dalam menghadapi kesiapsiagaan bencana salah satunya masih minim perlengkapan penunjang seperti alat pelindung diri (APD) dan perlengkapan yang mendukung penguatan proses kesiapsiagaan.

Sebanyak 2.050 pohon jenis mangrove dan pohon keras lainnya berhasil ditanam di Pantai Soge dan Pantai Teban, Pacitan.

Dengan kenyataan di atas, Disaster Management Center (DMC) Dompet Dhuafa menjadikan wilayah Kabupaten Pacitan, tepatnya Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirejo, sebagai Kawasan Tangguh dan Tanggap Bencana. Hari Minggu (30/10/2022) menjadi momentum penting. Pasalnya DMC Dompet Dhuafa bersama INDOFEST 2022, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pacitan dan Komunitas Pandan Wangi Kebun Raya Banten mengadakan penanaman 2.050 pohon mangrove dan pohon keras lainnya di Pantai Soge dan Pantai Teban. Kegiatan ini berlangsung dalam rangka gerakan Sedekah Pohon penanaman mangrove dan pohon keras dilaksanakan serentak dengan uluran bantuan warga setempat.

Agus Sugiyanto selaku Kepala Desa Sidomulyo menyambut baik iktikad baik yang dilakukan oleh kawan-kawan dari INDOFEST 2022, BPBD Kabupaten Pacitan dan Komunitas Pandan Wangi Kebun Raya Banten. Hal ini mendorong motivasi warga dan pihak aparatur setempat untuk kembali membangun desa yang tangguh terhadap bencana. Menjadi sebuah Kawasan Tangguh dan Tanggap Bencana.

“Kami menyambut baik tentang kegiatan yang dilaksanakan oleh DMC Dompet Dhuafa. Karena memang setelah terjadi pasca musibah kemarin, menjadi motivasi kami untuk membangun kembali sarana dan prasarana pasca dilanda kerusakan kemarin,” jelasnya.

Relawan DMC sedang menanam pohon donasi dari Komunitas Pandan Wangi Kebun Raya Banten.

Agus menambahkan bahwa masyarakat sudah melakukan koordinasi dengan aparatur setempat mulai dari tingkat kecamatan dan kabupaten. Hasilnya melalui Dinas Pekerjaan Umum telah dicanangkan program pembuatan tanggul pengaman. Dengan demikian ini bisa menjadi upaya penanggulangan bencana destinasi wisata Pantai Soge.

“Sekali lagi tentunya kami mengucapkan terima kasih yang luar biasa atas respons DMC Dompet Dhuafa yang telah bersinergi dengan kami sehingga ini menjadi sebuah semangat baru. Agar masyarakat membangun kembali sarana dan prasarana yang rusak akibat bencana tersebut. Semoga ini bermanfaat bagi masyarakat. Juga kami ucapkan terima kasih kepada rekan-rekan donatur INDOFEST. Terima kasih mudah-mudahan kerja sama ini akan lanjut dan terus ditingkatkan,” sambung Agus.

Agus juga menyatakan bahwa sebagian besar masyarakat sudah bisa mengantisipasi bencana abrasi. Karena menurutnya, masyarakat percaya bahwa ini merupakan siklus 5 (lima) tahunan sekali. Namun, meski sudah melakukan perencanaan matang, bencana alam selalu hadir di luar perkirakaan. Sehingga pertolongan dari berbagai pihak merupakan salah satu kunci penanggulngan bencana yang komprehensif.

Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Desa Sidomulyo, Suparli juga menuturkan hal serupa. Masyarakat sudah memiliki FPRB, namun forum tersebut masih terbilang baru. Sehingga aktivasi kegiatan PRB masih belum mapan.

“Sebelumnya, saya ucapkan terima kasih kepada DMC Dompet Dhuafa bahwa kami Desa Sidomulyo telah diberikan pelajaran untuk menanam mangrove dan itu sangat berguna sekali serta sangat bermanfaat. Karena kami di sini FPRB kami memang belum lama berdiri dan tentang penanaman mangrove masih belum begitu paham sekali,” jelasnya.

Relawan DMC sedang menanam pohon donasi dari INDOFEST 2022.

Suparli berharap bahwa kegiatan ini bisa berlanjut dan meningkat hingga ke jenjang yang lebih tinggi dan lebih masif lagi. Ia menjelaskan, saat banjir terjadi, dampaknya sangat menggerus pantai atau bibir pantai. Namun sekarang telah dilaksanakan pemasangan batu besar (tanggul) untuk penahan air yang telah diinisiasi oleh masyarakat.

“Nanti kami mohon ada tindak lanjut bantuan dari DMC Dompet Dhuafa yaitu penanaman pohon yang sifatnya keras untuk pendamping atau meneruskan program dari batu yang telah dipasang. Sehingga nanti bisa tertampung air dan ditanam mangrove lagi. Dengan demikian mungkin ke depan bisa jadi tempat pariwisata. Kami ucapkan terima kasih kepada para donatur. Mudah-mudahan apa yang telah didonasikan menjadi baik untuk kita. Kedua menjadi manfaat atau menjadi amal barokah bagi para donatur,” ujar Suparli.

Bowo Prayogo selaku Ketua Karangtaruna Desa Sidomulyo menceritakan bahwa abrasi terparah terjadi di tahun 2022. Pada tahun 2022 abrasi telah menghilangkan lahan-lahan pariwisata di pantai. Hal itu terjadi dalam waktu seminggu. Dalam waktu seminggu, bencana abrasi telah menghabiskan lahan-lahan pariwisata. Tahun 2022, abrasi paling parah yang sudah terjadi di Pantai Soge di sini sampai menghabiskan lahan parawisata, terutama aset desa.

“Dampak abrasi salah satunya destinasi wisata yang berdekatan dengan pohon cemara tersebut. Dahulu tempat tersebut merupakan tempat wisata anak-anak. Karena tempatnya enak, aman dan teduh sehingga banyak anak-anak yang bermain di sana. Namun sekarang sudah tidak ada lagi,” pungkasnya.

Kegiatan ini merupakan juga sarana edukasi sebagai bentuk penyadaran ke masyarakat pengunjung, khususnya warga Desa Sidomulyo. Tentang pentingnya menjaga ekosistem mangrove. Selain itu juga untuk edukasi terhadap warga tentang tanaman pelindung yang berfungsi sebagai pemecah gelombang tsunami.

“Saya ucapkan terima kasih kepada teman-teman DMC Dompet Dhuafa. Alhamdulillah terima kasih bantuannya telah ikut serta mendampingi Desa Sidomulyo untuk bisa bangkit kembali. Dan untuk teman-teman, dari INDOFEST terima kasih sekali atas partisipasinya supaya tidak ada bencana lagi,” tutup Bowo.

Haryo Mojopahit selaku Chief Executive DMC Dompet Dhuafa menjelaskan, DMC Dompet Dhuafa akan menjadikan Desa Sidomulyo sebagai Kawasan Tangguh dan Tanggap Bencana. Dengan menitikberatkan kepada program mitigasi dan kesiapsiagaan bencana gempa bumi, tsunami hingga abrasi. Sehingga penanaman mangrove dan pohon keras ini merupakan salah satu agenda besar masyarakat dan DMC Dompet Dhuafa dalam mewujudkan Indonesia Tangguh dan Tanggap Bencana.

Dalam waktu dekat, masyarakat dan DMC Dompet Dhuafa akan melakukan pembangunan bendungan pemecah ombak. Hal Ini sangatlah penting, karena merupakan upaya untuk mencegah terjadinya banjir bandang, dan juga untuk menjaga kestabilan dan kelestarian ekosistem dan keanekaragaman hayati di pesisir.

“Kami mohon dukungan dan bantuannya bersama DMC Dompet Dhuafa dalam rencana mewujudkan Kawasan Tangguh dan Tanggap Bencana di Desa Sidomulyo. Kami berharap dengan Kawasan Tangguh dan Tanggap Bencana ini mampu membantu warga dapat beraktivitas seperti biasa tanpa merasa cemas akan ancaman bencana yang mengintai,” jelasnya. (Dompet Dhuafa Jawa Timur/Markom/Aldi)

DMC Dompet Dhuafa Respon Banjir Bandang di Kabupaten Malang

DMC Dompet Dhuafa Respon Banjir Bandang di Kabupaten Malang

DMC Dompet Dhuafa Respon Banjir Bandang di Kabupaten Malang

MALANG, JAWA TIMUR — Beberapa wilayah di Kabupaten Malang mengalami banjir akibat guyuran hujan, Senin kemarin (17/10/2022). Dompet Dhuafa melalui tim Disaster Management Center (DMC) langsung terjun bersama Dompet Dhuafa Jawa Timur.

“Selain berkoordinasi dengan tim SAR lainnya, kami juga mengumpulkan data-data terkait kebutuhan para penyintas banjir bandang di lokasi,” tutur Agus Triabudi Waloyo atau yang akrab disapa Jhon selaku penanggungjawab dari Dompet Dhuafa Jawa Timur.

Berdasarkan catatan Badan Penanggulang Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, beberapa wilayah yang terdampak banjir yakni Desa Lebakharjo di Kecamatan Ampelgading, Desa Purowodadi dan Desa Pujiharjo di Kecamatan Tirtoyudo. Kemudian Desa Sitiarjo, Desa Sidoasri, dan Desa Tambakrejo di Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Lalu, Desa Sumbermanjing Kulon di Kecamatan Pagak, dan Desa Sumberoto di Kecamatan Donomulyo.

Kepala BPBD Kabupaten Malang Nur Fuad Fauzi mengatakan, “banjir itu diduga akibat meningkatnya debit air sungai dan laut setelah hujan yang turun sejak Minggu kemarin (16/10/2022) malam. Banjir terparah terjadi di kawasan Desa Sitiarjo, di sana banjir merendam rumah warga hingga 1,5 meter,” jelasnya.

Akibatnya, sedikitnya ada 4 (empat) dusun di kawasan Desa Sitiarjo terisolasi akibat banjir, serta akses menuju pantai Sendangbiru juga terputus. Melalui data yang diperoleh per Minggu (16/10/2022), terdapat tanah longsor yang menimpa 5 (lima) kecamatan yakni Kecamatan Ampelgading, Kecamatan Dampit, Kecamatan Donomulyo, Kecamatan Sumawe, dan Kecamatan Tirtoyudo.

Sementara itu, banjir luapan terdapat di Kecamatan Bantur khususnya di Desa Bandungrejo, Dusun Sumberagung terdapat 6 (enam) kepala keluarga (KK) dari 20 jiwa yang terdampak. Kecamatan Gedangan terdiri dari Desa Gajahrejo, Dusun Bajulmati terdiri 53 KK 166 Jiwa terdampak. Desa Sidodadi, Dusun Umbulrejo RT 13/04 dan RT 14/05 terdapat 154 KK. Lalu Dusun Kedung Rampal Kidul terdapat 3 (tiga) KK yang terdampak sementara di Kecamatan Sumawe, Desa Kedungbanteng terdapat saluran irigasi jebol RT 05 hingga beberapa rumah RT 27 terdampak kemasukan air di 60 KK.

Selanjutnya Desa Tambakrejo air masuk rumah RT 27 serta Desa Sitiarjo terdapat tergenang air dengan 4 (empat) Dusun kurang lebih 50 cm – 200 cm rumah terdampak 622 KK hingga di  Desa  Sumberoto, Kecamatan Donomulyo (proses pendataan). Kemudian di Desa Pandanrejo, Kecamatan Pagak terdapat dampak yakni bibit ikan terbawa banjir.

Hingga saat ini kebutuhan penyintas banjir di Kabupaten Malang, yakni air bersih, vitamin, logistik sebagai kebutuhan dasar, obat-obatan terutama untuk  demam  hingga diare, selimut, pakaian dalam pria dan wanita, pakaian bayi serta alat-alat kebersihan. “DMC bersama DD Jatim berencana pengadaan dan pendistribusian logistik, membantu droping makanan siap saji hingga mendirikan pos,” ujar Jhon.

(Aldhi/Markom/Dompet Dhuafa Jatim)

Pesantren Tanggap Bencana bertajuk Leadership Camp, cetak calon pemimpin cakap hadapi bencana

Pesantren Tanggap Bencana bertajuk Leadership Camp, cetak calon pemimpin cakap hadapi bencana

Pesantren Tanggap Bencana bertajuk Leadership Camp, cetak calon pemimpin cakap hadapi bencana.

Malang – Jawa Timur, 14/10/22. Dompet Dhuafa Jawa Timur bersama DDV (Dompet Dhuafa Volunteer) dan DMC (Disaster Manajemen Center) menyelenggarakan pelatihan kepemimpinan dan tanggap bencana di Bumi Maringi Peni (BMP), Tawangsari, Pujon Kabupaten Malang.

Kegiatan diikuti sebanyak 67 peserta yang berasal dari wilayah Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Malang dan Madiun.
Para peserta mendapatkan materi Urban Disaster Manajemen, materi kebencanaan umum, kepempimpinan, public speaking dan cinta tanah air. Tak tanggung-tanggung, acara ini menghadirkan para pembicara berkompeten dan juga dari pasukan TNI.
Yoga (23 th) dari Mojokerto mengatakan, “Leadership Camp ini menarik sekali, banyak sekali ilmu dan pengalaman yang saya dapatkan. Meskipun saya sudah beberapa kali ikut pelatihan yang serupa, bagi saya Leadership Camp yang diselenggarakan berbeda. Tempatnya asri, nyaman, ada materi prakteknya dan memperoleh teman baru.”

“Pesantren Tanggap Bencana bertajuk Leadership Camp ini kami selenggarakan dengan tujuan untuk mencetak para pemimpin yang tangguh, cakap menghadapi bencana dan berintegritas.” Ujar Kholid Abdillah, pimpinan Dompet Dhuafa Jatim.

Cegah Perundungan Antar Siswa, Dompet Dhuafa Kemas Edukasi Menarik untuk Anak-anak Melalui Dongeng dan Praktek Berbagi

Cegah Perundungan Antar Siswa, Dompet Dhuafa Kemas Edukasi Menarik untuk Anak-anak Melalui Dongeng dan Praktek Berbagi

Cegah Perundungan Antar Siswa, Dompet Dhuafa Kemas Edukasi Menarik untuk Anak-anak Melalui Dongeng dan Praktek Berbagi

Surabaya, Maraknya kasus bullying yang terjadi di lingkungan sekolah akhir-akhir ini adalah PR kita bersama untuk terus mengevaluasi dan mencari solusi agar tidak terulang dan bertambah korban. Anak-anak merupakan elemen yang berperan penting terhadap kemungkinan terjadinya bullying di suatu lingkungan karena setiap anak berpotensi menjadi bibit pelaku bullying. Hal tersebutlah yang mendorong Dompet Dhuafa Jawa Timur untuk menggelar roadshow sedekah dongeng dengan tema “Stop Bullying di Sekolah”.

Sedekah Dongeng merupakan event dongeng edukatif dan kreatif yang bertujuan untuk mengajak dan mengedukasi anak didik dengan cara yang menarik dan mudah diterima anak-anak. Event ini merupakan event rutin Dompet Dhuafa yang telah berlangsung sejak tahun 2015.

Roadshow Sedekah Dongeng Stop Bullying disekolah diadakan agar anak-anak bisa menjaga diri dari tindakan-tindakan bullying baik secara fisik, verbal, emosional maupun pelecehan seksual. Selain itu, kegiatan ini diharapkan bisa mendidik anak untuk menjadi pribadi yang lebih berempati terhadap sesama.

“Perundungan anak atau biasa dikenal dengan bullying merupakan pembunuh nomor satu terbesar, Mengapa? Karena bullying bisa melemahkan mental, hati, dan pola pikir. Keadaan itu membuat mereka malas melanjutkan kehidupannya. Hal ini tentu merupakan hal yang perlu jadi perhatian,” ujar Najib Mutamam selaku ketua panitia Event Roadshow Sedekah Dongeng. 

Agar value atau pesan mudah diterima anak-anak dan terkesan menyenangkan, Dompet Dhuafa menyertakan badut Bang Sidiq, icon Dompet Dhuafa yang berkolaborasi dengan Master Dongeng Indonesia, Kak Bimo, sebagai pengisi acara dongeng. Edukasi ini telah terlaksana di 25 sekolah tingkat KB/TK hingga SMP di Kota Madiun, Magetan, Surabaya, Sidoarjo dan Malang pada tanggal 19-24 September 2022 dengan durasi masing-masing sekolah antara 30-60 menit. 

Selain edukasi yang menyenangkan, di akhir acara Dompet Dhuafa juga mengajak para siswa untuk bersedekah atau berbagi secara langsung agar menumbuhkan rasa empati anak-anak terhadap sesama. Alhamdulillah sebanyak 5.587 siswa telah teredukasi tentang bullying dan berempati, Semoga kedepan semakin banyak siswa yang teredukasi dan mengasihi sesama sehingga kasus bullying tidak lagi terjadi di kemudian hari. 

(Aldhi/Markom?DOmpet Dhuafa Jatim)

Momen Kebersamaan Alfiansyah Menonton Sepak Bola Berujung Yatim Piatu

Momen Kebersamaan Alfiansyah Menonton Sepak Bola Berujung Yatim Piatu

Momen Kebersamaan Alfiansyah Menonton Sepak Bola Berujung Yatim Piatu

MALANG, JAWA TIMUR — Suasana duka masih sangat terasa di kediaman M. Alfiansyah (11). Salah satu korban selamat insiden kericuhan di Stadion Kanjuruhan Malang itu, kini menjadi yatim piatu. Sebab, orang tua Alfiansyah, M. Yulianto (40) dan Devi Ratna S. (30), turut menjadi korban meninggal dunia pada insiden tersebut bersama ratusan korban lainya.

Kediaman Alfiansyah nampak ramai dikunjungi tamu pelayat saat tim Dompet Dhuafa Jawa Timur berkunjung untuk menyalurkan santunan hari ini, Senin (3/10/2022). Tampak jelas kesedihan di wajah Alfiansyah dan keluarga.

Doni (43), paman Alfiansyah, menceritakan, bahwa saat Sabtu, 1 Oktober 2022, malam, Alfiansyah dan kedua orang tuanya pergi menonton pertandingan sepak bola ke Stadion Kanjuruhan Malang. Mereka tidak menyangka bahwa momen kebersamaan tersebut menjadi bencana bagi keluarganya.

“Orang tua Alfiansyah meninggal karena sesak nafas. Saat itu Alfiansyah berhasil selamat bersama Doni dan putranya. Kini Alfiansyah Yatim Piatu, dan rencananya akan tinggal bersama kami hingga lulus SD,” aku Doni.

Melalui Cabang Jawa Timur dan Disaster Management Center (DMC), Dompet Dhuafa mengerahkan tim respons untuk bantu percepatan penanganan awal pasca-kericuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Kelurahan Kedungpedaringan, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, pada Minggu (02/01/2022) pagi.

Baca Juga: https://www.dompetdhuafa.org/dompet-dhuafa-bantu-penanganan-pasca-tragedi-di-stadion-kanjuruhan/

“Selain mengerahkan ambulans, kami juga akan bantu pendataan info korban meninggal. Membuka Pos Hangat di Rumah Sakit atau di pusat informasi, pun berbagi nasi ke keluarga korban yang sedang menunggu hasil identifikasi,” sambung Kholid Abdillah selaku Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Timur. (Aldhi/Markom/Dompet Dhuafa Jawa Timur)

Dompet Dhuafa Bantu Penanganan Pasca Tragedi di Stadion Kanjuruhan

Dompet Dhuafa Bantu Penanganan Pasca Tragedi di Stadion Kanjuruhan

Dompet Dhuafa Bantu Penanganan Pasca Tragedi di Stadion Kanjuruhan

MALANG, JAWA TIMUR — Melalui Cabang Jawa Timur dan Disaster Management Center (DMC), Dompet Dhuafa mengerahkan tim respons untuk bantu percepatan penanganan awal pasca-kericuhan yang terjadi di Stadion Kanjuruhan, Kelurahan Kedungpedaringan, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang, pada Minggu (02/01/2022) pagi.

“Kami terhubung melalui Dompet Dhuafa Jawa Timur dan mengerahkan ambulans di RSUD Kanjuruhan. Sehingga kami siap segera memobilisasi jika ada korban meninggal yang akan dibawa pulang ke rumah duka. Kami juga akan membuka layanan untuk kelompok rentan seperti balita, anak-anak, dan lansia. Selain itu, bersama Forum Zakat (FoZ), kami terhubung dengan Pos Informasi untuk mencari anggota keluarga yang hilang atau terluka,” jelas Haryo Mojopahit selaku Chief Executive DMC Dompet Dhuafa.

Berdasarkan laporan sementara yang diterima Dompet Dhuafa Jawa Timur dan DMC, terdapat sebanyak 156 korban meninggal dunia. Diantaranya 10 korban meninggal dunia sudah dipulangkan menuju keluarganya. Kemudian 85 orang dalam perawatan, dan 54 orang sudah pulang dari perawatan.

Secara rinci, korban yang ada dipenanganan RSUD Kanjuruhan terdapat 3 (tiga) jiwa meninggal dunia, 50 orang dalam perawatan, dan 29 orang dalam perawatan sudah dikembalikan ke rumahnya. Kemudian korban yang ada dipenanganan RS Wava Husada terdapat 101 korban meninggal dunia, 7 korban meninggal dunia sudah dibawa menuju keluarganya, dan 20 orang dalam perawatan.

Sedangkan korban yang berada dipenanganan RSB Hasta Husada terdapat 4 (empat) korban meninggal dunia, 10 orang masih dalam perawatan, dan 25 orang dalam perawatan sudah dikembalikan ke keluarganya. Lalu korban yang berada dipenanganan Klinik Teja Husada terdapat 34 korban meninggal dunia, 3 korban meninggal dunia sudah dibawa menuju keluarganya, dan 5 (lima) orang dalam perawatan. RSUD DR. Saiful Anwar Malang (RSSA) terdapat 2 (dua) korban meninggal dunia, dan di Klinik Salcabila 4 (empat) korban meninggal dunia, terakhir di RSU Mitra Delima terdapat 4 orang meninggal dunia, dan RS Madiva Husada 4 korban.

“Selain mengerahkan ambulans, kami juga akan bantu pendataan info korban meninggal. Membuka Pos Hangat di Rumah Sakit atau di pusat informasi, pun berbagi nasi ke keluarga korban yang sedang menunggu hasil identifikasi,” sambung Kholid Abdillah selaku Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Timur. (Aldhi/Markom/Dompet Dhuafa Jawa Timur)

Berantas Buta Huruf Qur’an Braille, Dompet Dhuafa Jawa Timur Gandeng Kawan Netra untuk memperbanyak Sekolah di Jawa Timur.

Berantas Buta Huruf Qur’an Braille, Dompet Dhuafa Jawa Timur Gandeng Kawan Netra untuk memperbanyak Sekolah di Jawa Timur.

Pada hari Rabu (21/9) telah terlaksana penandatangan Kerjasama antara Dompet Dhuafa Jawa Timur dan Kawan Netra, yang diwakili oleh Kholid Abdillah sebagai Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Timur dan Gusti Mohammad Hamdan sebagai Ketua Yayasan Urunan Kebaikan.

Bentuk kerjasama Program Qur’an Braille ini, Dompet Dhuafa memberikan support pada kegiatan Kawan Netra dalam bentuk transportasi antar jemput peserta, sarana prasarana belajar tunanetra dan gaji guru Sekolah Qur’an Braille.

Saat ini Dompet Dhuafa dan Kawan Netra sudah menginisiasi Sekolah Qur’an Braille di wilayah Surabaya, Malang, Madura, dan Banyuwangi dengan total 165 siswa tunanetra dan 21 Guru tunanetra. Kedua belah pihak menyepakati untuk terus memperbanyak program ini, karena banyak Tunanetra yang sangat ingin bisa membaca Qur’an Braille.

Semoga kerjasama ini diberkahi oleh Allah dan selalu diberikan kemudahan dalam menjalankan amanah program Sekolah Qur’an Braille. Aamiin.

Dompet Dhuafa Jatim kantongi izin operasional dari Kemenag Jatim untuk lima tahun ke depan (2022 – 2027)

Dompet Dhuafa Jatim kantongi izin operasional dari Kemenag Jatim untuk lima tahun ke depan (2022 – 2027)

Sebagai bentuk komitmen dan kepatuhan terhadap regulasi negara, Dompet Dhuafa memperbarui izin operasionalnya yang telah habis di tahun ini. Alhamdulillah pada tanggal 1 September Dompet Dhuafa menerima SK yang berisikan izin operasional.
Izin operasional Lembaga zakat berlaku selama lima tahun. Untuk mendapatkan perpanjangan izin ini harus melalui beberapa tahapan. Di antaranya adalah mendapatkan rekomendasi dari Baznas, rutin melaporkan kegiatan dan hasil audit kepada Baznas dan Kemenag.

“Dengan terbitnya surat izin ini, kami berharap Dua hal. Pertama, kami lebih Amanah dan dapat berkordinasi dengan Baznas dan Kemenag dan harapan kedua, masyarakat tidak lagi ragu berzakat melalui Lembaga yang sudah mendapatkan izin. Karena untuk mendapatkan izin, harus melalui serangkaian persyaratan agar tetap dalam koridor Syar’i.” Ujar Kholid Abdillah, Pimpinan Dompet Dhuafa Jawa Timur.

Hunian Sementara kerjasama DD dengan Telkom Property

Hunian Sementara kerjasama DD dengan Telkom Property

Alhamdulillah bertambah lagi Hunian Sementara.

“Sebelumnya saya dan keluarga sementara menumpang di rumah saudara, karena rumah kami rusak total dampak dari erupsi Gn. Semeru 4 Desember lalu. Selain rumah, perkebunan kami juga terdampak, seluruh tanaman cabai mati dan tak sedikitpun ada sisa untuk dikonsumsi maupun dijual. Setelah beberapa lembaga sempat mensurvei, alhamdulillah akhirnya Dompet Dhuafa membantu kami mewujudkan hunian yang bisa kami tempati. Terimakasih Dompet Dhuafa dan Telkom Property.” Ujar pak Lamat, penerima manfaat Hunian Sementara.

10 bulan berlalu bencana Erupsi Gn. Semeru. Sisa-sisa duka masih terasa sampai saat ini.
Alhamdulillah Juli 2022 kembali terbangun 2 Hunian Sementara. Hunian Sementara ini di persembahkan oleh @telkomproperty.
Semoga keberkahan selalu mengalir ke orang-orang baik. Aaminn.

#huntara #huniansementara #erupsisemeru