Header Dompet Dhuafa Jatim
Berkah Ramadan, Dompet Dhuafa Jatim Bagi-bagi Takjil

Berkah Ramadan, Dompet Dhuafa Jatim Bagi-bagi Takjil

SURABAYA – Menjelang waktu berbuka puasa sore kemarin sore (3/4), ada pemandangan yang tak biasa terjadi di Mer rungkut, Gunung Anyar Surabaya. Pemandangan tak biasa itu ternyata disebabkan tim Lembaga Pelayan Masyarakat Dompet Dhuafa Jawa Timur melakukan aksi sebar takjil gratis di kawasan tersebut. Tim DD Jatim menyiapkan 100 Paket takjil amanah dari Donatur Dompet Dhuafa untuk dibagikan keseluruh pengguna jalan yang melintas.

Alhasil semua elemen masyarakat terjamah oleh takjil gratis yang telah disediakan. Tak ketinggalan, pedagang mainan bernama Joko, merasakan berkah Ramadan melalui sebar takjil dan Ia pun merasakan senang dengan adanya aksi tersebut.

“Alhamdulillah terima kasih sudah bagi-bagi takjil gratis. Kalau bisa lebih ditingkatkan lagi biar semua kebagian. Karena masih banyak orang yang butuh,” ungkap Joko.

Tak mau ketinggalan rekan dagang Joko yang berjualan assesoris juga memberikan tanggapannya terkait aksi tersebut. “Terima kasih buat Dompet Dhuafa, semoga sukses selalu. Harapannya semoga kedepannya lebih diperbanyak titik pembagian,” tandas Eko.

Selain menyampaikan komentar, para penerima takjil juga tak sungkan menyampaikan harapan kepada Dompet Dhuafa. Harapan itu sengaja mereka sampaikan agar kedepannya Dompet Dhuafa semakin baik lagi dalam hal melayani kaum dhuafa seperti yang dilakukan saat ini, yakni sebar takjil gratis.

“Harapannya, semoga Dompet Dhuafa makin baik lagi dan makin banyak lagi orang-orang kayak kita yang terbantu kayak takjil gratis ini. Kita diberi takjil aja udah merasa terbantu, jadi gak usah beli makanan buat buka,” kata Eko, kepada relawan Dompet Dhuafa. (Dompet Dhuafa Jawa Timur / Markom / Ilham)

Dompet Dhuafa Jawa Timur menggelar acara Tarhib Ramadan bertempat di Masjid agung Surabaya.

Dompet Dhuafa Jawa Timur menggelar acara Tarhib Ramadan bertempat di Masjid agung Surabaya.

Bulan Ramadhan sudah semakin dekat. Berbagai kegiatan dilakukan agar diri lebih siap menghadap bulan yang penuh berkah ini. Dompet Dhuafa Jawa Timur juga turut meyambut Ramadhan dengan menggelar Tarhib Ramadhan, di Kawasan Masjid Agung Surabaya, Minggu (27/3). Kegiatan ini merupakan salah satu upaya untuk mengingatkan Masyarkat agar dapat menghidupkan bulan Ramadhan dengan memperbanyak amal ibadah.

Dompet Dhuafa Jawa Timur menggelar acara Tarhib Ramadan Pada Ahad (27/03) bertempat di Masjid agung Surabaya.

Tahrib Ramadan kali ini memiliki beberapa rangkaian acara di antaranya Pawai keliling masjid Agung Surabaya, bagi-bagi Jadwal Imsakiyah, Flash Mob dan Aksi Layanan Sehat untuk para masyarakat yang berkunjung , Selain itu acara ini bertujuan untuk menyambut datangnya bulan ramadhan dengan memperhatikan protokol kesehatan ketat.

Mari kita sambut bulan Ramadan ini dengan keadaan yang gembira dan kita ekspresikan dalam bentuk ibadah kepada Allah Subhanahu Wata’ala, memperbanyak amal sholeh, berdzikir, dan bersedekah atas nama iman dan semata-mata mengharapkan ridho Allah Subhanahu Wata’ala,” ujar Najib selaku Koordinator Tarhib Ramadan, meskipun dalam kondisi puasa semangat agar terus dijaga dan juga kesehatan serta tetap menyelesaikan tugas yang menjadi tanggung jawabnya dengan baik dan ikhlas.

Dompet Dhuafa Jatim Undang Donatur dan Influencer Lihat Langsung Program Wakaf Hingga Pemberdayaan

Dompet Dhuafa Jatim Undang Donatur dan Influencer Lihat Langsung Program Wakaf Hingga Pemberdayaan

Sabtu (26/3) Dompet Dhuafa Jatim gelar acara Care Visit mulai dari Jombang hingga ke Pujon, Batu. Acara ini merupakan event yang diadakan agar donatur dan masyarakat mengetahui secara langsung bagaimana dana zakat, infak/sedekah, wakaf disalurkan oleh Dompet Dhuafa. Donatur dan Influencer diajak untuk tour ke beberapa program di dua kota.

Tujuan pertamanya RS Hasyim Ashari Jombang. Rumah sakit ini dibangun dari dana wakaf di lahan seluas satu hektar dan akan memberikan layanan kesehatan gratis untuk Dhuafa. Selain menghadiri acara soft launching RS Hasyim Asy’ari, peserta Care Visit diajak untuk berkeliling melihat fasilitas yang ada di RS Hasyim Asy’ari.

Selanjutnya peserta berkunjung ke program pemberdayaan ekonomi UMKM Dela Muda. Dela Muda adalah rumah produksi beraneka ragam olahan keripik yang memberdayakan masyarakat dhuafa serta guru ngaji di Desa Sobo, Madiredo, Pujon Kota Batu. Di sini selain dapat bertanya dan berinteraksi langsung dengan penerima manfaat, peserta Care Visit juga dijelaskan dan praktek membuat camilan Carang Mas.

Terakhir peserta diajak untuk berkunjung ke kawasan Bumi Maringi Peni (BMP) Pujon. Kawasan yang dibangun di lahan Wakaf Produktif ini tidak hanya memiliki pesantren yatim tapi juga program zakat produktif, mulai dari Warung Sehat yang menjual berbagai kebutuhan pokok, pom mini, perkebunan aloevera dan sayuran lainya, kolam budidaya ikan, peternakan domba hingga rumah produksi minuman aloevera yang semua keuntungan nya dikembalikan untuk mustahik.

Selain berkunjung peserta Care Visit juga diajak menanam, memetik dan mengolah secara langsung tanaman aloevera hingga menjadi produk minuman yang memiliki daya jual.

“sungguh pengalaman yang sangat luar biasa sampe capeknya ndak terasa” ujar Binar Tika, Enterpreneur sekaligus Influencer Surabaya

Bukan hanya sekedar charity, Dompet Dhuafa membuat program-program penyaluran nya adalah program pemberdayaan, Dompet Dhuafa Jatim fokus memberikan kail agar masyarakat Dhuafa bisa berdaya dan mandiri.


Care visit ini bertujuan untuk meningkatkan kepercayaan para donatur dan melibatkan mereka di program-program yang sedang berjalan. 

Penasaran dengan program lain? Nantikan Care Visit berikutnya ya.

Gelap Melihat Terang Memandang, Wagiyem Lantunkan Surat Al Anfal Gunakan Qur’an Braille

Gelap Melihat Terang Memandang, Wagiyem Lantunkan Surat Al Anfal Gunakan Qur’an Braille

SURABAYA, JAWA TIMUR — Keriput jemari Wagiyem (60), berupaya gigih meraba huruf demi huruf hijaiyah pada sebuah Al-Qur’an Braille. Getar jari-jemari Wagiyem, renta. Berlabuh dari lembar ke lembar. Mencari halaman sebelumnya agar dapat membaca ayat selanjutnya.

Kedua telapaknya menari ringan, menjamah susunan kalimat ayat suci agar ‘terbaca’ sempurna. Meski tertatih, ayat demi ayat ia lantunkan. Juz 10, Surat Al Anfal, ayat 46-51.

“Ya, kalau mengaji, hati saya itu terhibur, Nak,” aku Wagiyem pada kami.

Masya Allah.. Dalam gelap melihat, Wagiyem terang memandang. Dan izinkan kami sedikit mengungkapkan lagi, meski tertatih berjalan, hati Wagiyem riang menari.

“Tadi itu, alhamdulillah, saya baca Juz 10 ayat 46 sampai ayat 51 hari ini. Dari dulu, inginnya ya sampai khatam Qur’an, tapi semoga saya sempat ada umur,” harapnya.

Mungkin berlebihan rasanya jika kami, selaku Penulis artikel ini mengakui, bahwa kami tak mampu membendung buih air mata kami sendiri. Tamparan keras pada kami yang awas. Mendengar Wagiyem mengungkapkan asa mulia di usia senjanya. Wagiyem kini memang tidak melihat, pun tidak melihat keterbatasan pada dirinya.

Sore itu, Rabu (9/3/2022), kami hadir di Masjid Baitul Muslim di Ngagel, untuk silaturahmi sekaligus mendistribusikan amanah para Donatur Dompet Dhuafa berupa 30 Juz (satu set) Al-Qur’an Braille kepada komunitas Kawan Netra di Surabaya.

Disana, kami juga bertemu dengan Budi selaku Kepala Sekolah Tunanetra sekaligus Pengurus ITMI (Ikatan Tunanetra Muslim Indonesia). Ia katakan, se-Indonesia, tunanetra yang bisa membaca Al-Qur’an Braille hanya berjumlah 5%.

“Keinginan mengaji teman-teman itu kuat. Hal ini jugalah yang mendasari kami untuk menggencarkan aksi tunanetra mengaji. Dengan proses yang tidak mudah, alhamdulillah, gerakan ini berkembang terus, pun dengan adanya upaya bantuan pendampingan-pendampingan dari komunitas juga lembaga seperti Kawan Netra dan Dompet Dhuafa,” terang Budi.

Namun, tidak semua tunanetra memiliki Iqra dan Al-Qur’an Braille sendiri-sendiri. Umumnya Al-Qur’an Braille memiliki ukuran cetakan yang lebih besar dan hanya 1 (satu) buku tiap Juz-nya. Harga jual pun cukup tinggi. Juga cetakan huruf Braille, akan rapuh tiap cetakan timbulnya, terlebih jika sering digunakan. Dan kebutuhan kami juga ada pada pendampingan. Akses transportasi dan tenaga pengajar dari yang awas juga.

“Kemudian kami cari permasalahan-permasalahan yang ada. Ternyata, bukan hanya jumlah Al-Qur’an Braille-nya. Namun, akses pada kami teman-teman tunanetra untuk menuju lokasi pengajian. Misalnya, kadang-kadang kami sulit untuk menggunakan transportasi umum. Sering tidak pas penurunan lokasinya, kami kan bingung ketika turun ada dimana? Belum lagi jika kami salah mengeluarkan uang, ada saja kelakuan orang yang bohong pada kami,” sebut Budi.

Sebelumnya, Dompet Dhuafa bersama Kawan Netra yang didukung oleh banyak pihak, hadir untuk mendampingi tunanetra yang tergabung dalam ITMI Kota Surabaya dalam pemberantasan buta huruf Al-Qur’an Braille, salah satunya adalah dengan menyelenggarakan Festival Tunanetra Mengaji (FTM) di Surabaya pada Ahad, (24/10/2021) lalu. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 200 tunanetra dari Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik, dan melibatkan sekitar 70 relawan pendamping.

“Alhamdulillah, terima kasih doa para donatur Dompet Dhuafa Jatim yang telah ikut mendukung banyak hal pada acara ini. Mulai dari donasi paket sembako sebagai hadiah untuk para peserta hingga transportasi antar jemput bagi para peserta tunanetra yang semangat untuk belajar Al-Quran Braille,” ucap Gusti, Pendiri Yayasan Urunan Kebaikan.

Tak hanya itu, Dompet Dhuafa Jawa Timur turut mendukung kebutuhan dakwah para Dai tunanetra dalam menyebarluaskan ilmu mengaji Al-Qur’an Braille. Bersama Yayasan Urunan Kebaikan juga beberapa komunitas di Surabaya, Dompet Dhuafa Jawa Timur menyelenggarakan Pelatihan Qur’an Braille untuk Guru Ngaji Tunanetra. Gerakan tersebut berlangsung selama 4 hari, yaitu sejak 27-31 Maret 2021 di TPA Nurulhuda Surabaya.

Di ujung pembicaraan, Wagiyem bertutur, “Ibu sekarang makin terlihat tua ya? Tapi memang sudah nenek-nenek, cucu sudah tiga. Semoga anak-anak kalian juga rajin baca Al-Qur’an ya, Nak,” pungkas Wagiyem, melempar harap.

Hari itu pun, kami masih terngiang suara Ibu Wagiyem yang melantunkan 5 (lima) ayat dari Surat ke-delapan dalam Al-Qur’an. Berikut bunyi ayat tersebut:

اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ وَلَا تَنَازَعُوْا فَتَفْشَلُوْا وَتَذْهَبَ رِيْحُكُمْ وَاصْبِرُوْاۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَۚ – ٤٦

Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah beserta orang-orang sabar. (8-46)

وَلَا تَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ خَرَجُوْا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَرًا وَّرِئَاۤءَ النَّاسِ وَيَصُدُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ بِمَايَعْمَلُوْنَ مُحِيْطٌ – ٤٧

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang keluar dari kampung halamannya dengan rasa angkuh dan ingin dipuji orang (ria) serta menghalang-halangi (orang) dari jalan Allah. Allah meliputi segala yang mereka kerjakan. (8-47)

Dompet Dhuafa Jawa Timur Kembali Menyalurkan Bantuan untuk Yatim

Dompet Dhuafa Jawa Timur Kembali Menyalurkan Bantuan untuk Yatim

Jum’at (11/3/2022) Dompet Dhuafa Jawa Timur menyalurkan program Peduli Yatim kepada anak yatim di Surabaya. Bantuan yang disalurkan berupa kebutuhan pangan yakni beras, gula, teh dll. 

Salah satu penerima manfaat bantuan pangan ini adalah anak dari ibu Ani berumur 6 tahun. Mereka tinggal di daerah Joyoboyo Surabaya. Sedangkan ayahnya meninggal dua tahun yang lalu karena sakit covid 19 dan ibunya bernama Ani memiliki penyakit kanker payudara stadium 2b sejak tahun 2020.

Kini mereka hanya tinggal bertiga. Untuk mecukupi kebutuhan sehari-hari keduanya, ibu Ani hanya mengandalkan jualan penyetan rumahan itupun jika ada tetangga yang meminta untuk dibuatkan. Hasilnyapun pas-pasan kadang juga kurang, penghasilan perhari ibu Ani 20 ribu, hanya cukup untuk makan dan sedikit sisa buat biaya sekolah.

“Alhamdulillah, dapat bantuan dari Dompet Dhuafa Jawa Timur mulai dari sembako dan lain sebagainya, semoga berkah, sukses dan bisa membantu bagi orang-orang yang membutuhkan aamiin. ” (Ani). dompet dhuafa jawa timur(ilham hidayatulloh)

Peduli Terhadap Keamanan Pangan, Dompet Dhuafa Berikan Edukasi Tentang Pertanian Organik

Peduli Terhadap Keamanan Pangan, Dompet Dhuafa Berikan Edukasi Tentang Pertanian Organik

Tulungagung – Jawa Timur, Dompet Dhuafa Cabang Jawa Timur adakan sosialisasi program pengembangan budidaya belimbing organik kepada petani muda di Desa Bono Kecamatan Boyolangu Tulungagung. Alhamdulillah sebanyak 11 petani muda yang berasal dari Desa Bono, Waung dan Moyoketen mengikuti kegiatan ini.

Kegiatan sosialisasi ini merupakan rangkaian tahapan dari pelaksanaan program pengembangan pertanian belimbing yang rencananya akan terlaksana di Wilayah Tulungagung. Selain sosialisasi, dalam rangka untuk menguatkan komitmen bersama maka dilakukan juga proses penandatanganan kerjasama antara Dompet Dhuafa bersama petani muda binaan. ” Alhamdulillah kulo remen bianget, mugi-mugi usana bersama niki angsal kasil sae. Saget damel perantara lek kulo pado kasehteraan “. Kata Yopi (31 th) salah satu peserta program.

” Program pengembangan belimbing organik ini kita juga melibatkan praktisi yang sudah ahli dibidang pertanian organik, bersama kelompok tani Artha Mandiri yang dulunya juga adalah dampingan program Dompet Dhuafa kami komitmen berjuang bersama petani untuk meningkatkan pendapatan. Hal mendasar yang perlu kita benahi adalah SDM “. Kata Rizzqi (33 th) selaku koordinasi program Dompet Dhuafa Jatim.

Sapa Penerima Manfaat Kebun Green House Pemberdayaan DD Jatim

Sapa Penerima Manfaat Kebun Green House Pemberdayaan DD Jatim

BANYUWANGI, JAWA TIMUR — Usai meresmikan Serambi Budaya di Desa Tamansuruh, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, pada Sabtu (12/2/2022), tim Dakwah, Budaya dan Pelayanan Masyarakat (DBPM) Dompet Dhuafa lanjut menyambangi kebun pemberdayaan Dompet Dhuafa Jawa Timur di Muncar, Banyuwangi. Dompet Dhuafa ingin menyapa dan berdiskusi dengan penerima manfaat program pemberdayaan ekonomi keluarga ini.

Sekitar dua jam perjalanan dari Serambi Budaya menuju lokasi kebun. Sayup-sayup mentari mulai memejamkan mata. Waktu yang tepat memang untuk menikmati teh hangat bersama dengan segarnya melon yang langsung dipetik dari kebunnya. Ditemani beberapa suara kicauan burung dan pemandangan yang hijau di segala sudutnya, membuat suasana menikmati buah kebun hasil pemberdayaan Dompet Dhuafa ini semakin lengkap.

Seorang bapak 34 tahun dari dua anak usia sekolah adalah penerima manfaatnya. Umar Taufik namanya. Memang sudah sepantasnya dia mampu menghidupi segala kebutuhan keluarganya. Apalagi dengan kebutuhan sekolah anaknya yang mungkin tak sedikit membutuhkan biaya. Mulanya tak seberapa ia hasilkan uang dari hasil berkebun. Namun pada tahun 2020 setelah Allah mempertemukannya dengan tim ekonomi Dompet Dhuafa, ia mampu mengantongi cuan berlipat kali dari sebelumnya.

Berkonsep Green House, kini kebunnya seluas 500 meter persegi dengan berbagai tanaman buah. Menurut Umar, buah yang paling diunggulkan di Green House-nya ini adalah melon kinanti atau juga disebut golden melon. Dengan jumlah tanaman melon kinanti sebanyak 1150 tanaman, tentu ini membuatnya bisa melakukan panen hampir setiap minggu. Atau bahkan setiap saat ada yang ingin mencicip langsung dari kebunnya.

“Usia tanam melon kinanti ini 2 (dua) bulan. Karena ini sistemnya adalah green house jadi panennya tidak kenal musim. Misal habis ada yang dipanen langsung ditanam lagi. Alhamdulillah, berkat dibina oleh Dompet Dhuafa, kebun ini semakin pesat berkembang. Bahkan untuk pemasarannya, buah-buah dari green house ini dapat masuk ke supermarket-supermarket,” jelas Umar.

Selain buah melon, juga ada beberapa buah lainnya yaitu pepaya california, cabai, dan jagung. Seperti juga melon, semua hasil kebun green house milik keluarga Umar ini berkualitas terbaik dan mampu menembus pasar-pasar di kalangan atas.

“Pak Umar ini adalah salah satu penerima manfaat yang berdaya di bawah binaan Dompet Dhuafa Jatim. Tentu masih banyak lagi penerima manfaat – penerima manfaat lainnya yang menjadi binaan Dompet Dhuafa Jatim. Tidak hanya pemberdayaan pada sektor perkebunan saja melainkan masih banyak lagi pada sektor lain seperti peternakan, UMKM, dan lainnya. Doakan supaya Dompet Dhuafa dapat terus hadir untuk masyarakat-masyarakat kecil supaya bisa besar dan berdaya,” ucap Kholid Abdillah selaku Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Timur. (Dompet Dhuafa Jatim / Aldhi)

Dompet Dhuafa Resmikan Program Serambi Budaya di Banyuwangi

Dompet Dhuafa Resmikan Program Serambi Budaya di Banyuwangi

Banyuwangi (12/2) Sebagai lembaga filantropi yang peduli terhadap kondisi budaya Indonesia Dompet Dhuafa Jawa Timur tidak henti-hentinya melakukan kegiatan sosialisasi kepada seluruh lapisan masyarakat tentang pentingnya menjaga budaya bangsa. Nilai-nilai budaya ketimuran yang dimiliki oleh bangsa Indonesia agaknya pelan-pelan mulai terenduksi oleh budaya luar seiring dengan kemajuan teknologi.

Kata ustadz Ahmad Sonhaji selaku Direktur Dakwah Budaya dan Pelayanan Masyarakat Dompet Dhuafa berkata, ” program Serambi Budaya Dompet Dhuafa mengawal kekuatan karakter dan tradisi budaya masyarakat yang menjadi kekayaan khazanah Nusantara. Melestarikan dan menjaga tradisi budaya menjadi tanggungjawab generasi selanjutnya agar tidak bergeser apalagi tergusur dan hilang. Akulturasi budaya tradisional dan Milenial akan semakin apik jika dikemas dengan tetap menjaga kearifan lokal”.

Pada peresmian program Serambi Budaya Dompet Dhuafa hari ini, terlaksana di Desa Taman Suruh Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur kali ini. Peserta dampingan program turut memeriahkan acara dengan menampilkan kesenian burdah, hadrah, kuntulan, pocoan lontar dan pencak sumping. Alhamdulillah acara berjalan lancar dengan tetap menerapkan protokol kesehatan sesuai anjuran satgas covid Pemkab Banyuwangi.

Ustadz Sonhaji berharap, program serambi budaya Kampung Hadrah Dompet Dhuafa ini menjadi stimulus bagi semua pihak dan pencinta budaya untuk bersama menghormati tradisi dan melestarikan peninggalan budaya para pendahulu, terutama di Banyuwangi ini. (Dompet Dhuafa Jawa Timur/Aldhi)

Sinergi DD Jatim dan YBM PLN, Hadirkan Perahu Dakwah di Pedalaman Situbondo

Sinergi DD Jatim dan YBM PLN, Hadirkan Perahu Dakwah di Pedalaman Situbondo

SITUBONDO, JAWA TIMUR — Perahu menjadi sarana transportasi utama bagi masyarakat pedalaman di Dusun Merak Desa Sumberwaru, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo. Jalan menuju Dusun Merak selama ini sulit ditempuh. Pada saat musim hujan, warga harus menempuh jalur laut, karena jalur darat tak bisa dilalui.

Sudah sejak lama masyarakat di sana menggunakan perahu sebagai akses bersosial dan berkegiatan ekonomi. Sekitar satu jam lamanya jarak tempuh menggunakan perahu dari pelabuhan menuju Dusun Merak. Sedangkan pada saat musim kemarau, masyarakat lokal sebenarnya bisa menempuh melalui jalur darat, namun waktu tempuhnya bisa mencapai 2 (dua) jam.

Di hari yang penuh berkah, pada Jumat (11/2/2022), Dompet Dhuafa Jawa Timur bersama dengan Yayasan Baitul Maal (YBM) PLN meresmikan program Perahu Dakwah. Alhamdulillah, acara yang berlangsung di Dusun Merak tersebut berjalan dengan lancar.

Dalam sambutannya, Kholid Abdillah selaku Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Timur, menyampaikan, hadirnya Program Perahu Dakwah ini kedepan akan difungsikan sebagai pelayanan emergensi kesehatan bagi warga Merak dan sekitarnya. Tidak hanya digunakan untuk melayani kebutuhan masyarakat Dusun Merak, namun juga untuk mendukung aktivitas dakwah Islam di wilayah Merak dan sekitarnya. Ia juga berharap sinergi kebaikan antara Dompet Dhuafa dan YBM PLN ini dapat terus berlanjut bahkan bisa dikembangkan pada program-program lainnya.

“Program Perahu Dakwah ini nantinya juga berfungsi untuk pelayanan emergensi kesehatan bagi masyarakat Dusun Merak dan sekitarnya. Harapan kami bahwa kolaborasi bersama ini tidak berhenti di program ini. Bersama YBM PLN, Dompet Dhuafa akan terus berupaya menghadirkan program lain yang kiranya dibutuhkan oleh masyarakat Dusun Merak, utamanya bagi warga dhuafa,” sebut Kholid.

Selain dari tim Dompet Dhuafa, hadir pula pada acara peresmian tersebut Manajer Pendistribusian dan Pendayagunaan YBM PLN, pengurus YBM PLN dari wilayah Situbondo, Jember, dan Banyuwangi. Selain itu tentu tak terlewat tokoh-tokoh masyarakat serta para warga Dusun Merak juga ikut memeriahkan acara ini.

Menurut Manajer Pendistribusian dan Pendayagunaan YBM PLN, Riki Bagus, dalam sambutannya menyampaikan, program Perahu Dakwah ini menjadi salah satu misi program Cahaya YBM PLN. Senada dengan Kholid, ia juga menyampaikan bahwa Perahu Dakwah ini selain untuk melayani kebutuhan masyarakat Dusun Merak, juga untuk mendukung aktivitas dakwah di sana.

“Fungsi perahu ini tidak hanya melayani kebutuhan masyarakat di Dusun Merak, namun juga mendukung kegiatan dakwah bagi para dai yang ingin melakukan kegiatan syiar di wilayah Merak,” ucapnya. (Dompet Dhuafa Jatim / Aldhi)

Kisah Pasutri Sepuh Penyintas Semeru: Rumah dan Sawah Hancur, Bersyukur Cucunya Tak Gugur (Bagian Dua)

Kisah Pasutri Sepuh Penyintas Semeru: Rumah dan Sawah Hancur, Bersyukur Cucunya Tak Gugur (Bagian Dua)

LUMAJANG, JAWA TIMUR — Seakan Dusun Kajar Kuning, Desa Sumberwuluh, Kabupaten Lumajang, sudah menjadi bagian dari tubuhnya. Lahir di sana, besar di sana, mencari kehidupan di sana. Menjalani kehidupan tanpa terjadi bencana sejak kecil, Pak Hasyim merasa sangat nyaman dan tentram menjadi warga Dusun Kajar Kuning.

Rumah berlatar belakang Gunung Semeru yang gagah menjulang menembus awan, halaman rumah yang luas dengan berbagai macam tumbuhan cantik, tetangga-tetangga yang super ramah, suhu yang sejuk tanpa harus memasang AC, juga dikelilingi oleh lahan-lahan pertanian maupun perkebunan dengan air yang melimpah, menjadikan Pak Hasyim selalu memanjatkan syukur kepada Allah, Sang Pemilik Alam Semesta. Hal tersebut juga ia tularkan kepada istri, serta anak dan cucu-cucunya.

Maka sangat tak disangka, dengan tanpa aba-aba, Gunung Semeru mengalirkan lahar dingin ke arah pemukiman Dusun Kajar Kuning ditambah semburan dan hamburan awan panas yang menghujaninya dengan dahsyat. Tidak hanya itu, guncangan akibat erupsi juga menambah besar dampak bencana ini hingga rumah-rumah banyak yang rusak, tak terkecuali rumah Pak Hasyim.

“Mboten nyono, kula 65 tahun urip teng mriki teruse wonten bencana niki. Biasane nggeh mung gluduk-gluduk mawon. Mboten nate lahar nyampe Kajar Kuning (Tidak nyangka, Saya 65 tahun di sini kemudian terjadi bencana sebesar ini. Biasanya ya cuma petir-petir saja. Tidak pernah sampai ada lahar sampai di Kajar Kuning),” kata Pak Hasyim di dampingi sang istri saat bercerita kepada tim Dompet Dhuafa di tenda pengungsian di Desa Penanggal, Kecamatan Candipuro, pada Selasa (28/12/2021).

Tidak hanya rumah tempat tinggal yang hancur, melainkan juga lahan-lahan pertanian dan perkebunan serta peternakan juga menjadi sasaran dampak musibah dahsyat ini. Padahal, warga di sana memanglah bermata pencaharian utama sebagai petani dan peternak. Lahan serta penghasilan Pak Hasyim pun tak luput dari yang terdampak.

Kesehariannya bersama sang istri adalah bertani dan berkebun. Tidak ada aktivitas lain selain itu kecuali menjualkan hasil tani dan kebunnya berupa padi dan cabai.

Masih dengan nada pilu, Sukarminah sang istri menyebutkan, bahwa seharusnya Hari Minggu ia sudah mulai memanen cabai, namun pada Sabtu sore, sehari bahkan beberapa jam sebelum waktu itu tiba, semuanya seketika lenyap tak tersisa. Tidak hanya itu, lima hari setelah erupsi, seharusnya padi yang ia tanam bersama sang suami sudah siap untuk dipanen.

“Ini sebenarnya sudah waktunya panen. Tapi sudah habis semua cabai-cabainya dan padi-padinya. Sebelum kejadian, cabainya itu sudah-merah-merah, padinya pun sudah kering. Sudah waktung dipanen pokoknya. Harusnya, cabaing besoknya sudah mulai panen. Padinya kurang lima hari lagi juga sudah panen. Semuanya sudah habis, tapi Alhamdulillah yang penting orang-orangnya selamat,” lanjut cerita Bu Sukarminah.

Bila mengingat peristiwa itu, isak tangis sedih serta tetesan air mata tiba-tiba mengucur tak terbendung dari mata ibu berdarah Madura ini. Meskipun dirinya dan keluarga selamat dari bencana maut, namun bingkai-bingkai film menakutkan itu masih kerap terputar jelas dibenaknya.

Sukarminah dan sang suami saat ini masih belum terfikir untuk bagaimana memulainya lagi dari nol. Yang menjadi sangat penting untuk saat ini adalah tempat tinggal. Ia berharap rencana relokasi yang digagas oleh pemerintah melalui lembaga-lembaga sosial seperti Dompet Dhuafa dapat segera terwujud.

“Semoga rencana relokasi itu benar ada dan diwujudkan. Saat ini yang kami butuhkan adalah tempat tinggal, karena saya masih harus merawat kedua cucu saya yang yatim itu. Yang lainnya insyaAllah akan difikirkan kalau cucu-cucu saya sudah nyaman punya tempat tinggal,” tandasnya. (Dompet Dhuafa Jatim / Aldhi)